SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Hari Kartini selalu menghadirkan suasana yang khas kebaya dikenakan dengan anggun, sanggul ditata rapi dan berbagai seremoni digelar penuh makna. Semua itu adalah bentuk penghormatan yang indah sekaligus upaya melestarikan warisan budaya bangsa, tidak ada yang keliru dengan itu.

Namun di balik keindahan simbol tersebut ada nilai perjuangan yang jauh lebih dalam untuk merenungkan peringatan hari lahir Raden Ajeng Kartini bukan hanya tentang kebaya tetapi tentang keberanian berpikir semangat belajar dan tekad untuk memperjuangkan hak serta martabat perempuan melalui pendidikan.

Bicara Hari Kartini takkan ada habisnya. Hari kelahiran perempuan pejuang persamaan hak perempuan itu kerap dimanifestikan lewat seremonial dengan menggunakan kebaya. Hal tersebut sah sah saja dan sangat baik untuk melestarikan busana nasional. Lagi pula ini tentu tak lepas dari latar belakang Kartini merupakan perempuan Jawa abad ke 19 yang pada masa itu identik dengan sanggul dan pakaian kebaya.

"Yang ingin saya sampaikan bukan tentang kebaya tapi tentang esensi perjuangan seorang Kartini yang harus dimaknai dan diteladani sebagai spirit bagi wanita Indonesia dalam berjuang khususnya dalam dunia pendidikan," kata Pengawas Pendidikan Menengah Kalimantan Tengah Dr. Rusnanie, Selasa, 21 April 2026.

Seorang perempuan harus bisa mengambil perannya dalam berbagai sisi kehidupan dengan tidak meninggalkan kodratnya sebagai seorang wanita, baik ia sebagai seorang istri maupun seorang ibu. Kartini masa kini tentunya akan mengalami tantangan dan perjuangan yang berbeda dengan Kartini masa penjajahan.

Di masa penjajahan Kartini memperjuangkan persamaan hak antara laki laki dan perempuan khususnya dalam mengenyam pendidikan. Namun untuk saat ini emansipasi wanita sudah sangat nyata dalam berbagai sisi kehidupan. Perempuan tidak lagi dibatasi haknya dalam menempuh pendidikan atau meniti karirnya. Perempuan saat ini di dalam masyarakat maupun dalam dunia kerja memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki laki.

Dalam era emansipasi wanita setinggi apa pun pendidikan, sebagus apa pun karir, sehebat apa pun seorang wanita di luar sana tetaplah kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Tantangan terberat saat ini justru seorang perempuan yang berperan sebagai istri dan sekaligus seorang ibu. Perempuan dituntut harus mampu menciptakan keseimbangan antara karir kegiatan sosial dan rumah tangga dengan baik dan seimbang agar tidak tercipta masalah atau kendala. Agar semuanya menjadi seimbang dibutuhkan komitmen yang kuat dan usaha yang terus menerus. Di sinilah ketulusan dari sosok seorang istri yang juga seorang ibu diuji untuk layak disebut sebagai Kartini masa kini.

Sebagai istri, sosoknya sangat menentukan dalam mencapai tujuan akan dibawa ke mana biduk rumah tangga yang dibangun. Peran istri sebagai sosok penopang perjuangan suami bukanlah hal yang mudah dilakukan jika memandangnya bukan dalam bingkai ketulusan. Karena itu sangatlah bijak kalimat yang mengatakan di balik suami yang sukses ada istri yang bijak dan di balik istri yang bijak pasti ada suami sebagai imam yang senantiasa membimbingnya.

Sosok perempuan sebagai seorang ibu sangat menentukan kesuksesan akan arah masa depan anaknya. Karena seorang anak tumbuh dan berkembang lebih banyak dalam asuhan seorang ibu. Menjadi seorang ibu yang mengasuh, membesarkan dan mendidik anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Ibu adalah penentu dasar pembentukan karakter seorang anak yang akan melekat hingga masa dewasanya. Jika pembentukan karakter itu gagal anak akan kehilangan teladan untuk menghadapi perkembangan dirinya 

Terlebih lagi di zaman sekarang yang sangat canggih dan serba digital di mana arus informasi berdatangan dari segala lini seperti air bah dan tak terbendung. Repotnya lagi tidak semua informasi yang disajikan berbagai media itu baik untuk perkembangan karakter anak-anak. Tak terhitung lagi berapa banyak informasi dan tayangan negatif yang berdampak buruk dan menyesatkan. Di sinilah tugas perempuan sebagai orang tua sebagai seorang ibu untuk mendampingi anak-anak dalam memfilter semua informasi yang datang.

Belum lagi ancaman narkoba dan pergaulan bebas yang kian masif dan sangat sulit terkontrol. Ini menjadi sebuah ancaman serius terhadap perkembangan anak-anak kita.

"Untuk itu sangat dibutuhkan pendampingan yang lebih bermakna dari seorang ibu untuk membentengi semua hal yang terkait dengan perkembangan anak," tambahnya. 

Seorang anak yang diasuh dalam rumah tangga yang di dalamnya penuh dengan kasih sayang dan takut akan Tuhan maka anak tumbuh dan berkembang dengan sehat dan memiliki karakter kuat, kepribadian teguh serta mampu menghadapi kerasnya tantangan kehidupan. Pendidikan yang diterapkan di keluarga akan menjadi benteng bagi anak dari serangan dan godaan dari luar.

Sebagai anak yang sudah dididik dan dibesarkan dengan kasih sayang dan pendidikan terbaik oleh orang tua, perempuan akan menjadi insan yang mandiri. Jadi sesibuk apa pun dengan keluarga kecil yang dibangun serta serumit apa pun dengan pekerjaan bukan berarti perempuan tidak punya waktu memberikan perhatian dan kasih sayang untuk anak-anak dan orang tua yang sudah sepuh bagi yang masih memiliki orang tua.

"Selamat menjadi Kartini Masa Kini mari kita jadikan perjuangan Raden Ajeng Kartini sebagai inspirasi untuk terus melangkah bukan sekadar hadir tetapi benar benar memberi arti," ujarnya. 

Perempuan mungkin tidak lagi hidup dalam keterbatasan seperti Kartini dahulu. Namun tantangan bagi perempuan hari ini tidak kalah berat kita diuji oleh waktu dan peran yang bertumpuk serta tuntutan yang seakan tak pernah selesai.

"Ada masa di mana saya sendiri berada di titik lelah ketika semua peran datang bersamaan tuntutan sebagai ibu, istri dan perempuan yang juga ingin terus bertumbuh. Di saat itulah saya belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak lelah tetapi tetap memilih berjalan dengan hati," katanya. 

Di titik lelah itu, diingatkan bahwa menjadi perempuan bukan tentang menjadi sempurna. Tetapi tentang tetap berdiri tetap menguatkan tetap memberi walau sering kali diri sendiri terabaikan.

Menjadi istri yang setia, menjadi ibu yang mengasuh dengan cinta menjadi perempuan yang terus belajar dan tidak kehilangan jati dirinya itulah perjuangan yang sesungguhnya.

"Jika hari ini terasa berat jangan berhenti jika langkah terasa lambat jangan menyerah karena dari rahim ketulusan dari hati yang terus berjuang di sanalah lahir generasi yang kuat," ucapnya.

Kartini masa kini bukan tentang siapa yang paling terlihat hebat tetapi siapa yang paling tulus menjalani perannya dengan sepenuh jiwa. Dan pada akhirnya yang akan dikenang bukan seberapa tinggi berdiri tetapi seberapa banyak perempuan menguatkan dan menerangi.

"Ada hal yang harus kita ingat kita harus selalu menjaga kesehatan fisik dan mental agar kita selalu bisa berkarya dalam peran kita masing masing," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)