JAKARTA –

BORNEONEWS, Teheran – Pemerintah Iran mendesak Amerika Serikat untuk segera membebaskan kapal dagang Touska beserta seluruh awak dan keluarga yang berada di dalamnya, setelah kapal tersebut disita di perairan Teluk Oman.

Melalui Kementerian Luar Negeri, Iran menegaskan bahwa tindakan penyitaan oleh Amerika Serikat dinilai melanggar hukum internasional dan berpotensi menimbulkan konsekuensi serius.

“Republik Islam Iran menuntut pembebasan segera kapal, awak, dan keluarga mereka, serta memperingatkan dampak dari tindakan yang dianggap ilegal tersebut,” demikian pernyataan resmi pemerintah Iran, Selasa, 21 April 2026.

Sebelumnya, United States Central Command menyebut kapal berbendera Iran itu berupaya menembus blokade di Teluk Oman sebelum akhirnya diamankan pada Minggu, 19 April 2026.

Iran mengecam keras penyitaan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk “pembajakan maritim” yang melanggar Piagam PBB serta prinsip hukum internasional.

Juru bicara markas militer Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan Iran akan mempertimbangkan langkah lanjutan setelah memastikan keselamatan seluruh awak kapal.

Ketegangan antara kedua negara sebelumnya juga meningkat setelah serangkaian serangan terhadap target di Iran pada akhir Februari 2026, yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa.

Meski sempat terjadi gencatan senjata sementara pada awal April dan dilanjutkan dengan perundingan di Islamabad, negosiasi belum membuahkan hasil.

Situasi semakin kompleks setelah AS dilaporkan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara upaya mediasi internasional masih berlangsung untuk membuka kembali jalur diplomasi.

ANTARA