BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) terus menggencarkan upaya pencegahan stunting melalui gerakan kolaboratif lintas sektor.
"Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Dinas Kesehatan dengan stakeholder terkait, seperti camat, lurah, PKK, serta kader posyandu dalam upaya mencegah stunting," kata Pj Sekretaris Daerah Kotim Umar Kaderi saat kegiatan Penggerakan Masyarakat Gerakan Cegah Stunting di Puskesmas Baamang 1, Rabu, 22 April 2026.
Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama dalam pencegahan stunting, terutama terkait pemahaman pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Ia menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan, dengan memastikan ibu hamil mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang.
"Makna 1.000 HPK harus benar-benar dipahami. Pencegahan stunting dimulai dari kandungan, bagaimana asupan gizi ibu hamil terpenuhi agar bayi tumbuh sehat dan optimal," tambahnya.
Dengan pemenuhan gizi yang baik sejak dini, diharapkan bayi yang lahir memiliki kondisi kesehatan yang optimal serta tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berkualitas.
Selain edukasi, pemerintah juga mendorong pemberian makanan tambahan (PMT) yang dilaksanakan oleh kader di tingkat desa.
"Dengan kegiatan ini, termasuk pemberian makanan tambahan, kami berharap tidak muncul kasus stunting baru dan secara bertahap angka stunting bisa ditekan," tambahnya.
Umar juga menyebutkan, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia, angka stunting di Kotim saat ini masih berada di kisaran 21,6 persen, sehingga membutuhkan upaya serius dan berkelanjutan.
"Kita berharap ke depan angka stunting bisa terus menurun bahkan dapat dieliminasi," tegasnya.
Melalui gerakan bersama ini, pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkomitmen memerangi stunting demi menciptakan generasi sehat dan berkualitas di Kotim. (DEWI PATMALASARI/j)









