PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Peringatan Hari Kartini ke-147 di Kabupaten Kotawaringin Barat tak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, momentum ini menegaskan kembali makna perjuangan perempuan yang terus hidup dan berkembang lintas generasi, khususnya di kalangan perempuan muda.

Mengusung tema “Semangat Kartini, Inspirasi Lintas Generasi”, kegiatan yang digelar Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kotawaringin Barat ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai perjuangan R.A. Kartini masih relevan hingga hari ini. Tidak hanya dalam konteks emansipasi, tetapi juga dalam peran strategis perempuan di berbagai sektor kehidupan.

Bupati Kotawaringin Barat, Hj. Nurhidayah, menyampaikan bahwa tema tersebut menjadi refleksi nyata atas peran perempuan yang kini semakin kuat dan tidak lagi diragukan.

“Ini menunjukkan bahwa perempuan sudah mampu berperan di berbagai bidang, baik politik, ekonomi, maupun sosial. Bahkan, perannya sudah melampaui generasi. Inilah cita-cita Kartini yang kini mulai kita rasakan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya semangat untuk terus berkembang. Menurutnya, perempuan masa kini tidak boleh cepat puas, melainkan harus terus berkarya dan membuktikan diri di berbagai sektor.

“Perempuan saat ini adalah pilar penting dalam menggerakkan ekonomi. Jangan pernah berhenti belajar dan berkontribusi,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Ketua GOW Kotawaringin Barat, Mersie Subahagio. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis, tidak hanya dalam keluarga sebagai pendidik pertama bagi anak, tetapi juga dalam pembangunan daerah.

“Perempuan masa kini harus mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Melalui GOW, kami berkomitmen mendorong peningkatan kapasitas perempuan serta memperkuat sinergi dengan pemerintah dan berbagai pihak,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga melibatkan generasi muda, salah satunya melalui pemilihan Putri Kartini tingkat SMA/sederajat se-Kotawaringin Barat. Keterlibatan ini menjadi bukti bahwa semangat Kartini tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus diwariskan dan dihidupkan oleh generasi berikutnya.

Selain itu, nuansa Kartini juga terasa kuat dari busana yang dikenakan seluruh perempuan yang hadir. Kebaya yang digunakan tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mencerminkan karakter perempuan Indonesia yang anggun, kuat, dan berdaya.

Melalui peringatan ini, makna Hari Kartini kembali ditegaskan sebagai pengingat bahwa perjuangan perempuan bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga tentang kontribusi nyata dalam membangun bangsa.

Di Kotawaringin Barat, semangat tersebut kini tumbuh di tangan generasi muda perempuan-perempuan yang tidak hanya melanjutkan perjuangan, tetapi juga menciptakan perubahan di zamannya. (SITI AKOBAH/j)