BORNEONEWS, Palangka Raya - Desa Habeahan, Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan kembali menunjukkan potensi unggulannya melalui peluncuran Kopi Arabika Long Berry Lintong, sebuah inovasi komoditas lokal yang saat ini tengah dalam proses pendaftaran ke kementerian terkait untuk memperoleh sertifikasi sebagai galur murni atau varietas baru khas wilayah tersebut.
Kopi ini dikembangkan dan dibudidayakan oleh Abdul Haris Lumban, Ketua Koperasi Merah Putih sekaligus aktivis pertanian organik di Desa Habeahan. Keunikan utama kopi ini terletak pada ukuran buah (berry) yang relatif lebih besar dibandingkan varietas arabika pada umumnya, yang menjadi karakter khas sekaligus potensi nilai tambah dalam pengembangan pasar kopi spesialti.
Dalam pengolahannya, Kopi Arabika Long Berry Lintong menerapkan beberapa metode pascapanen yang beragam untuk menghasilkan cita rasa yang berbeda, di antaranya metode natural, semi-wash, dan honey process. Pada metode natural, buah kopi dipetik dalam kondisi matang (ceri), kemudian dicuci dan dikeringanginkan di rak selama beberapa minggu hingga menghitam secara alami. Metode semi-wash dilakukan dengan cara buah kopi dipetik, dikupas, dicuci secara sederhana, lalu dijemur selama 6–8 jam di bawah sinar matahari dengan sisa lendir yang masih melekat. Sementara itu, metode honey process dilakukan dengan memetik buah kopi tanpa pencucian, kemudian langsung dijemur selama 6–8 jam, sehingga menghasilkan karakter rasa yang khas dari sisa lendir alami pada biji kopi.
Peluncuran kopi ini turut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan, yakni Staf Ahli Bupati, Parman L. Gaol, unsur dinas terkait, serta jajaran pemerintah desa. Dari kalangan akademisi, hadir Prof. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., Ph.D., bersama mitra internasional Assoc. Prof. Dr. Seca Gandaseca dan Prof. Gs. Ts. Dr. Mohd. Hasmadi Ismail, yang memberikan dukungan terhadap pengembangan komoditas unggulan desa berbasis riset dan inovasi.
Sebagai bentuk simbolisasi, bubuk Kopi Arabika Long Berry Lintong diserahkan kepada Prof. Rahmawaty, Prof. Seca Gandaseca, Prof. Mohd. Hasmadi Ismail, serta Ir. Yusak Maryunianta, MP oleh Kepala Desa Habeahan bersama perwakilan pemerintah daerah dan dinas terkait.
"Momen ini menandai langkah awal pengenalan kopi khas Habeahan ke tingkat yang lebih luas, baik nasional maupun internasional," kata Staf Ahli Bupati, Parman L. Gaol dalam rilis kepada Borneonews pada Kamis, 23 April 2026.
Meski memiliki potensi besar, pengembangan kopi ini masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya dalam aspek hilirisasi produk. Di antaranya adalah kebutuhan akan kemasan (packaging) yang lebih tahan lama dan menarik, serta penguatan strategi pemasaran digital agar produk kopi ini mampu menembus pasar yang lebih luas hingga tingkat global.
"Dengan dukungan berbagai pihak, Kopi Arabika Long Berry Lintong diharapkan tidak hanya menjadi identitas baru bagi Desa Habeahan, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat serta memperkuat posisi daerah sebagai salah satu sentra kopi unggulan di Indonesia," katanya lagi.
Upaya ini sekaligus mencerminkan semangat inovasi lokal yang berpadu dengan kolaborasi global dalam mendorong pembangunan desa berbasis potensi unggulan. (TESTI PRISCILLA/y)









