PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kemitraan antara perusahaan perkebunan kelapa sawit dan petani plasma dinilai tidak akan berjalan optimal tanpa penguatan pembinaan dan pengawasan yang konsisten di lapangan. Hal ini ditegaskan Sekretaris Eksekutif Gapki Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang.

Menurut Rawing, perusahaan inti memegang peran penting dalam memastikan petani plasma memiliki kapasitas yang memadai. Pembinaan melalui pelatihan dan pendampingan teknis disebut menjadi fondasi utama untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil panen.

“Pembinaan bukan sekadar formalitas. Ini menjadi kunci agar petani plasma bisa berkembang dan menghasilkan produksi sesuai standar,” ujarnya pada Kamis, 23 April 2026.

Selain itu, aspek pengawasan juga tidak kalah penting. Ia menjelaskan, pengawasan dilakukan untuk memastikan seluruh proses perkebunan berjalan sesuai ketentuan, mulai dari standar kualitas hingga aspek keselamatan kerja dan lingkungan.

Rawing menekankan bahwa dalam pola kemitraan, terdapat keseimbangan hak dan kewajiban antara perusahaan dan petani. Petani berhak memperoleh bagi hasil, pelatihan, serta dukungan modal, namun di sisi lain juga wajib menjalankan praktik budidaya sesuai standar yang telah disepakati.

Sementara itu, perusahaan tidak hanya berhak mengelola kebun sesuai perjanjian, tetapi juga berkewajiban memberikan dukungan teknis dan menjaga hubungan yang harmonis dengan petani. Transparansi, khususnya dalam sistem pembayaran yang mengacu pada harga pasar atau kesepakatan bersama, menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan kedua belah pihak.

“Kalau masing-masing pihak menjalankan perannya secara seimbang, kemitraan yang sehat dan berkelanjutan bisa terwujud,” tandasnya. (TESTI PRISCILLA/y)