PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kolaborasi internasional antara Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universiti Putra Malaysia (UPM) terus diperkuat melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pengembangan masyarakat di Desa Habeahan, Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Masyarakat Internasional yang didukung hibah Program Equity dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Republik Indonesia. Dalam forum tersebut, Prof. Gs. Ts. Dr. Mohd. Hasmadi Ismail dari UPM hadir sebagai narasumber utama.

Program ini terselenggara melalui kerja sama antara USU, UPM, dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) dengan fokus pada penguatan kapasitas kelembagaan serta mendorong keberlanjutan lingkungan menuju pembangunan desa yang mandiri dan produktif.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin oleh Prof. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., Ph.D. sebagai ketua tim dari USU. Tim juga melibatkan sejumlah akademisi, di antaranya Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP; Dr. Ir. Bejo Slamet, S.Hut., M.Si., IPM; Ir. Yusak Maryunianta, MP; serta Nur Ulina Warnisyah Sebayang, M.Agr. Selain itu, mahasiswa dan alumni Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian USU turut ambil bagian sebagai wujud komitmen akademik berbasis masyarakat.

Dalam pemaparannya, Prof. Mohd Hasmadi Ismail membagikan pengalaman pengembangan masyarakat serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan yang telah diterapkan di Malaysia.

"Penting sekali adanya integrasi antara keahlian akademik, partisipasi masyarakat lokal, serta kolaborasi kelembagaan dalam mencapai pembangunan desa berkelanjutan jangka panjang," kata Prof Hasmadi dalam rilisnya pada Kamis, 23 April 2026.

Ia menjelaskan sejumlah pendekatan yang dilakukan di Malaysia, khususnya dalam konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, pertanian berkelanjutan, serta pengelolaan lahan berbasis partisipasi.

"Keberhasilan program pembangunan sangat bergantung pada keterlibatan berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat desa," tuturnya lagi.

Berdasarkan pengalamannya, potensi sumber daya lokal dapat dioptimalkan menjadi peluang ekonomi berkelanjutan melalui inovasi, peningkatan kapasitas, dan praktik ramah lingkungan. Ia pun mendorong masyarakat Desa Habeahan untuk memaksimalkan potensi alam dan pertanian yang dimiliki tanpa mengabaikan keseimbangan ekologi.

“Keberlanjutan pembangunan desa tidak hanya bergantung pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kekuatan partisipasi masyarakat, kesadaran lingkungan, serta kolaborasi kelembagaan,” ujarnya.

Diskusi ini mendapat antusiasme tinggi dari berbagai pihak, mulai dari perwakilan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, akademisi, hingga mahasiswa. Para peserta aktif membahas kemungkinan adaptasi praktik sukses dari Malaysia ke dalam konteks lokal Desa Habeahan.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen UPM dalam memperkuat kolaborasi global, pertukaran pengetahuan, serta pemberdayaan masyarakat lintas negara. Di sisi lain, kerja sama ini juga mempererat hubungan akademik antara Malaysia dan Indonesia dalam menjawab tantangan pembangunan desa secara berkelanjutan.

Melalui kolaborasi semacam ini, diharapkan pertukaran pengetahuan internasional dapat memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan pembangunan desa berkelanjutan serta meningkatkan ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan di kedua negara. (TESTI PRISCILLA/y)