BORNEONEWS, Palangka Raya - Kasus pembunuhan sadis yang menewaskan lima warga terjadi di wilayah perbatasan Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Timur (Kaltim), tepatnya di sekitar Muara Teweh.
Peristiwa tragis tersebut diduga kuat dipicu oleh sengketa lahan antara korban dan para pelaku, yang berujung pada aksi kekerasan mematikan. Insiden ini kembali membuka persoalan klasik konflik agraria yang belum terselesaikan secara menyeluruh di daerah.
Sengketa lahan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui mekanisme hukum dan mediasi, justru berujung pada hilangnya nyawa, memicu keprihatinan berbagai pihak.
Anggota DPR RI Dapil Kalteng, Iwan Kurniawan, turut menyoroti keras peristiwa tersebut saat berlangsungnya dialog kunjungan kerja reses Komisi II DPR RI bersama Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN RI, yang berlangsung di Aula Jaya Tingang Lantai II Kantor Gubernur Kalteng, Kamis 23 April 2026.
Ia menilai kasus ini menjadi bukti nyata lemahnya penanganan konflik agraria di lapangan, khususnya di wilayah yang rawan sengketa lahan.
“Sengketa lahan sampai menimbulkan korban jiwa adalah hal yang sangat memprihatinkan. Ini menunjukkan bahwa penanganan konflik agraria belum berjalan maksimal,” ujarnya, Kamis 23 April 2026.
Iwan juga mengungkapkan bahwa berdasarkan pemantauannya, wilayah tersebut belum tersentuh optimal oleh program Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA). Padahal, keberadaan GTRA dinilai penting untuk memetakan, memediasi, dan menyelesaikan konflik agraria secara komprehensif.
Menurutnya, pemerintah perlu segera mengambil langkah cepat dan tegas, baik melalui penguatan kelembagaan, percepatan reforma agraria, maupun kehadiran aktif negara dalam menyelesaikan sengketa lahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Tragedi ini menjadi peringatan serius bahwa konflik agraria tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi dan sosial, tetapi juga berpotensi memicu kekerasan yang merenggut nyawa. Diperlukan sinergi semua pihak untuk memastikan penyelesaian konflik dilakukan secara adil dan berkeadilan hukum," tegasnya. (MARINI/H)









