PANGKALAN BUN –

Borneo sejatinya tidak pernah kehabisan cerita. Dari hulu Barito hingga Muara Arut, tradisi tutur seperti Karungut, Kandan, dan Syair Deder hidup turun-temurun di rumah-rumah panjang dan beranda Rumah Betang. Namun ada yang ganjil, Dimana kekayaan sebesar itu jarang sekali terdengar di ruang kelas anak-anak sekolah. Di sekolah, sastra lebih sering hadir sebagai daftar nama pengarang yang harus dihafal, bukan pengalaman yang dihidupi. Padahal urgensinya cukup nyata. Hasil survei yang dirilis Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalimantan Tengah pada November 2024 mencatat Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kalteng berada di angka 68,64 dan ini masih berkategori "sedang", meskipun naik dari 56,06 pada pengukuran sebelumnya (Dispursip Kalteng, 2024). Angka itu boleh kita syukuri, namun tetap jangan berpuas diri dulu. Literasi tidak selesai pada seberapa sering anak membuka buku, tetapi menyangkut kemampuan memaknai, merasakan serta menuliskan kembali dunia di sekitarnya. Pada titik inilah sastra berperan dan sekolah menjadi titik yang kerap “gagal”.

Pemerintah sebenarnya sudah bergerak. Terbukti sejak Mei 2024, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud meluncurkan program bertajuk Sastra Masuk Kurikulum dengan 177 judul buku sastra terkurasi untuk berbagai jenjang (Badan Bahasa Kemendikbud).
Sayangnya, program sebaik ini berisiko diam ditempat jika di lapangan hanya diterjemahkan sebagai penambahan daftar bacaan wajib. Sastra akan kembali terasa asing, persis seperti sebelumnya jika ruhnya tidak ikut masuk ke kelas.

Karena itu, praktik baik di salah satu sekolah yakni SMP Negeri 7 Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, patut dibaca sebagai arah yang mulai menjanjikan. Sekolah ini tumbuh di tengah masyarakat yang mayoritas Suku Dayak, bahkan letaknya pun berdampingan
langsung dengan pemakaman leluhur. Lingkungan sekuat itu terlalu sayang untuk dikurung dalam pelajaran bahasa yang kaku dan berhenti pada teori. Maka pendekatan pun diubah. Para siswa diajak keluar kelas, berjalan menuju Rumah Adat Betang di kampung mereka sendiri. Mereka mengamati kokohnya kayu ulin dari luar, masuk dan duduk merasakan kehangatan yang ada di dalamnya. Dalam bangunan tua itu, guru tidak lagi sibuk mendiktekan definisi majas. Anak-anak justru diajak meraba sejarah, menghirup suasana, serta menuangkan apa yang mereka rasakan ke dalam tulisan. Dari sana lahirlah bait-bait puisi yang jujur dan cerita pendek berlatar kampung halaman yang mengalir apa adanya. Sastra dengan cara itu, akhirnya berhenti menjadi beban dan berubah menjadi perayaan identitas.

Persoalannya, praktik seperti ini masih terlalu jarang. Karena harus bergantung pada keberanian kepala sekolah dan inisiatif segelintir guru, bukan sekdar pada sistem. Tanpa dukungan struktural, pengalaman belajar semacam itu hanya akan menjadi cerita manis yang lewat begitu saja. Ada beberapa hal yang menurut saya tidak bisa ditawar lagi. Pertama, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah harus memastikan guru bahasa dan sastra mendapat pelatihan yang layak untuk mengintegrasikan sastra lokal ke dalam pembelajaran. Tidak cukup hanya mengandalkan MGMP seja. Kedua, sekolah perlu didorong membangun kemitraan tetap dengan tokoh adat, sastrawan daerah hingga komunitas literasi seperti komunitas Karungut di Palangka Raya atau Sampit. Mereka adalah sumber primer yang selama ini kita abaikan. Ketiga, pemerintah daerah wajib menyediakan panggung bagi karya siswa, baik dalam bentuk antologi daerah, rubrik sekolah di media seperti Borneonews, atau bahkan kanal digital resmi. Karya tanpa pembaca akan mati sebelum sempat tumbuh.

Sastra Masuk Sekolah bukan sekadar program tambahan apalagi proyek seremoni. Ia adalah cara kita menolak membiarkan anak-anak Kalteng tumbuh asing dari tanahnya sendiri. Sudah terlalu lama sekolah kita menyodorkan dunia yang jauh kepada mereka, sementara Rumah
Betang berdiri diam di halaman depan tanpa pernah dijadikan sumber belajar. Jika sekolah masih enggan membuka pintunya untuk kearifan di sekitar, kita jangan terkejut bila kelak lahir generasi yang fasih berliterasi global tetapi gagap pada ceritanya sendiri.

Borneo tidak kekurangan cerita, yang kurang adalah keberanian kita membawanya masuk salah satunya ke ruang kelas.

Penulis:  Sarifah Firda Arindita Nafarin adalah Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Semarang