BORNEONEWS, Palangka Raya - Fenomena El Nino diprediksi mulai memengaruhi wilayah Kalimantan Tengah pada pertengahan tahun 2026, dengan potensi dampak berupa musim kemarau yang lebih panjang dan kondisi cuaca yang lebih kering.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama sejumlah pusat iklim dunia memperkirakan kondisi ENSO yang saat ini masih netral akan berkembang menjadi El Nino dengan kategori moderat hingga kuat pada periode Mei hingga Juli 2026.
Prakirawan BMKG Palangka Raya, Lian Adriani, menyebutkan bahwa perubahan tersebut akan berdampak langsung pada pola musim di wilayah Kalteng, terutama terkait penurunan curah hujan dan peningkatan suhu udara.
“BMKG dan beberapa pusat iklim dunia memprediksi bahwa ENSO Netral akan berkembang menjadi El Nino moderat-kuat mulai periode Mei-Juni-Juli 2026,” ujarnya, Kamis, 23 April 2026.
Secara regional, awal musim kemarau di Kalimantan Tengah diperkirakan terjadi pada akhir Mei. Adapun puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Juli hingga Agustus.
Dengan kondisi tersebut, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga diperkirakan meningkat, seiring dengan mengeringnya lahan dan berkurangnya intensitas hujan di sejumlah wilayah.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama periode kemarau berlangsung. Upaya menjaga kesehatan juga penting mengingat suhu udara yang cenderung lebih panas.
Di sisi lain, BMKG menegaskan bahwa istilah “Godzilla El Nino” yang sempat beredar di masyarakat bukan merupakan istilah ilmiah. “Istilah tersebut hanya sebutan informal untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat, sementara secara resmi hanya ada kategori lemah, moderat, dan kuat,” tegas Lian Adriani. (SABRIANOOR/j)









