JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memperketat pemantauan terhadap debitur di sektor-sektor terdampak guna menjaga kualitas kredit di tengah dinamika global, termasuk konflik Timur Tengah dan fluktuasi harga energi.

Wakil Presiden Direktur BCA, John Kosasih, mengatakan salah satu sektor yang mulai merasakan tekanan adalah industri plastik, terutama akibat kenaikan harga bahan baku yang dipicu lonjakan harga minyak dunia.

“Kami terus berkoordinasi dengan nasabah untuk melihat kondisi usaha mereka serta langkah mitigasi yang disiapkan,” ujar John dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Meski demikian, ia memastikan risiko kredit masih dalam kondisi terkendali. Aktivitas usaha nasabah dinilai masih berjalan normal, sehingga BCA akan terus memantau perkembangan situasi secara berkala.

John menilai, para debitur korporasi umumnya telah mengantisipasi kenaikan harga komoditas sejak awal. Ketidakpastian global justru mendorong pelaku usaha lebih siap menghadapi berbagai skenario risiko.

Selain itu, ia menegaskan eksposur kredit dalam valuta asing (valas) relatif kecil, sekitar 4,9 persen dari total portofolio kredit BCA. Kondisi ini membuat dampak pelemahan nilai tukar rupiah tidak terlalu signifikan.

“Bagi nasabah berbasis ekspor, pelemahan rupiah justru bisa menjadi peluang, meskipun stabilitas nilai tukar tetap diharapkan,” katanya.

Sementara itu, Direktur BCA Subur Tan menambahkan bahwa perseroan telah melakukan uji ketahanan (stress test) sesuai arahan regulator, dengan hasil yang masih positif.

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) BCA berada jauh di atas ketentuan minimum. Sementara rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat tetap rendah di level 1,8 persen per Maret 2026.

Ia mengakui terdapat sedikit peningkatan pada indikator loan at risk (LAR), namun masih dalam batas aman dan didukung oleh pencadangan yang memadai.

“Untuk potensi kenaikan NPL ke depan, masih terlalu dini disimpulkan, namun kami optimistis kualitas kredit tetap terjaga,” ujar Subur.

Per akhir Maret 2026, total penyaluran kredit BCA tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp994 triliun.

Dari sisi segmen, kredit korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,1 persen (yoy) menjadi Rp483,8 triliun, disusul kredit komersial yang tumbuh 5,7 persen (yoy) menjadi Rp145,2 triliun.

Secara sektoral, penyaluran kredit terbesar berasal dari industri manufaktur sebesar Rp213,7 triliun, diikuti sektor perdagangan Rp195,1 triliun.

Adapun rasio LAR dan NPL masing-masing tercatat sebesar 5,1 persen dan 1,8 persen, dengan tingkat pencadangan yang kuat mencapai 69,7 persen untuk LAR dan 174,6 persen untuk NPL.

ANTARA