PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Sekitar 220 jurnalis dari berbagai negara, termasuk Indonesia, mengikuti Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian yang digelar Heavenly Culture World Peace Restoration of Light secara daring pada 18 April 2026.

Kegiatan bertema “Reporting Solutions in the Age of News Avoidance” ini menyoroti pentingnya peran media dalam menghadapi fenomena penghindaran berita, mereduksi konflik, serta mendorong terciptanya perdamaian.

Workshop menghadirkan sejumlah jurnalis yang berkontribusi dalam kajian Peace Journalism Studies. Mereka menekankan pentingnya jurnalisme berbasis solusi, yakni peliputan yang tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membuka ruang penyelesaian dan harapan.

Jurnalis Indepthnews.id, Achmad Yani, memaparkan riset tentang peran narasi media internasional dalam meredakan konflik Thailand–Kamboja. Ia menilai cara media membingkai konflik sangat memengaruhi persepsi publik.

Dari analisis 19 artikel media global, mayoritas pemberitaan lebih menyoroti bentrokan militer dan ketegangan politik. Sementara itu, dampak terhadap warga sipil cenderung kurang mendapat perhatian.

“Media membentuk pemahaman publik melalui apa yang ditampilkan maupun yang diabaikan,” ujarnya.

Pemateri lain, jurnalis mediabanjarmasin.com, Ida Yusnita, menegaskan bahwa perdamaian merupakan hak yang harus dijaga bersama.

Menurutnya, perdamaian tidak hanya berarti ketiadaan konflik, tetapi juga mencakup rasa aman, keadilan, dan kesetaraan yang memerlukan peran aktif semua pihak, termasuk media.

Sementara itu, jurnalis dan akademisi dari Republik Dominika, José Nicolás Arroyo Ramos, menyoroti potensi polarisasi dalam ekosistem media digital.

Ia memperkenalkan konsep “kekerasan diskursif”, yaitu bentuk komunikasi yang dapat memperkuat perpecahan tanpa kekerasan fisik. Di era digital, konten emosional yang belum terverifikasi dinilai mudah menyebar dan menyederhanakan persoalan kompleks.

Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya jurnalisme yang mengulas akar masalah serta menghadirkan beragam perspektif.

Selain sesi pemaparan, peserta juga terlibat dalam diskusi kelompok yang membahas peliputan berbasis harapan serta pentingnya narasi positif dalam pemberitaan konflik.

Workshop ini juga memperkenalkan Media Association for Global Peace, jaringan global yang menghubungkan jurnalis dan organisasi lintas negara untuk memperkuat praktik jurnalisme perdamaian.

Penyelenggara menegaskan, media memiliki peran strategis tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga dalam membentuk persepsi publik dan mendorong terciptanya perdamaian global. (*/j)