BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Bagi masyarakat suku Banjar yang banyak tersebar di wilayah Kalimantan Tengah, ikan gabus bukanlah ikan sembarangan. Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang paling favorit dan memiliki tempat istimewa di hati mereka. Dagingnya yang padat, gurih, dan tidak banyak duri halus menjadikannya bahan utama yang tak tergantikan dalam berbagai hidangan istimewa.
Keistimewaan ikan gabus bagi masyarakat Banjar terlihat jelas dalam kuliner tradisional yang sudah melegenda. Ikan ini menjadi bintang utama dalam menu ikonik seperti Ketupat Kandangan dan Nasi Kuning Banjar.
Dalam masakan-masakan ini, ikan gabus biasanya diolah dengan kuah santan bumbu kuning yang kaya rempah, menciptakan cita rasa yang sangat lezat dan menjadi kebanggaan kuliner daerah yang selalu dinanti.
Namun, popularitas yang tinggi ini ternyata didukung oleh fakta ilmiah yang tak kalah menarik. Secara medis dan gizi, ikan gabus dikenal memiliki kandungan nutrisi yang luar biasa tinggi, terutama protein dan albumin. Kedua zat ini berperan sangat penting dalam pembentukan otot, mempercepat penyembuhan luka, menjaga keseimbangan cairan tubuh, hingga meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Kandungan gizi yang lengkap ini menjadikan ikan gabus layak disebut sebagai "superfood" lokal yang potensial. Selain protein dan albumin, ikan ini juga kaya akan zat besi, kalsium, fosfor, serta vitamin A dan B yang sangat baik untuk kesehatan tubuh secara menyeluruh. Potensi inilah yang kini terus dikembangkan agar bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat.
Sayangnya, tingginya permintaan pasar dan popularitasnya sebagai bahan makanan utama membawa dampak tersendiri. Populasi ikan gabus di alam liar terus mengalami penurunan drastis, baik dari segi jumlah maupun ukuran tubuhnya akibat eksploitasi berlebihan. Oleh karena itu, upaya budidaya menjadi solusi mutlak yang harus dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus melestarikan sumber daya alam.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui peneliti Adang Saputra telah melakukan riset mendalam sejak tahun 2015. Berbagai teknologi budidaya dikembangkan, mulai dari metode pemijahan semi-alami dengan bantuan hormon hingga pengelolaan kualitas air yang tepat guna menghasilkan benih dan ikan konsumsi yang berkualitas.
Dalam proses budidayanya, kestabilan lingkungan perairan menjadi kunci utama. Suhu air ideal berkisar 20–29°C dengan pH netral hingga sedikit basa sangat diperlukan untuk pertumbuhan optimal. Selain itu, pada tahap awal kehidupan larva, penggunaan pakan alami seperti Moina sp. dan sistem pemeliharaan yang terkontrol sangat disarankan agar ikan tumbuh sehat dan cepat besar.
Upaya peningkatan kualitas juga terus dilakukan melalui inovasi pakan. Penelitian menunjukkan bahwa dengan formulasi pakan yang tepat dan penambahan nutrisi khusus, kandungan albumin pada ikan gabus hasil budidaya bisa ditingkatkan. Dengan dukungan riset dan kolaborasi yang kuat, diharapkan ikan gabus tidak hanya tetap menjadi primadona kuliner, tetapi juga menjadi komoditas unggulan yang mendukung ketahanan pangan dan kesehatan nasional. (SABRIANOOR/H)









