SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghadapi beragam tantangan kesehatan masyarakat yang cukup kompleks, mulai dari tingginya kasus hipertensi dan tuberkulosis (TBC). 

Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, menyampaikan bahwa hipertensi saat ini menjadi penyakit nomor dua dengan tingkat pengendalian yang masih rendah. 

“Hipertensi sudah menjadi penyakit nomor dua, dan yang terkendali baru sekitar 13,9 persen. Ini masih berkaitan dengan pola hidup masayarakat," ujarnya, Sabtu, 25 April 2026.

Selain hipertensi, tidak sedikit pula masyarakat Kotim yang menderita TBC. Pihaknya mencatat ada 602 kasus TBC pada tahun 2025. Meski angka tersebut menurun signifikan dari tahun seblumnya yaitu 704 kasus namun tetepa menjadi perhatian. 

“Kasus TBC memang menunjukkan trend penurunan, namun kami tetap waspada dan terus menggenjot program pencegahan dan pengobatan,” jelasnya.

Melihat masalah kesehatan masyarakat tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui pihaknya terus menggencarkan 

program cek kesehatan gratis. Ini digulirkan sebagai upaya pemeriksaan dini juga belum mencapai optimal, dengan capaian hanya sekitar 50,81 persen dari target indikator dan 18,29 persen dari total populasi.

“Kendala utama adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menegaskan menghadapi tantangan ini, Dinas Kesehatan Kotim berkomitmen meningkatkan partisipasi masyarakat dan memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk perangkat daerah, dunia usaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam pelaksanaan program kesehatan.

“Kami siap melaksanakan cek kesehatan gratis hingga ke institusi dan masyarakat agar layanan ini benar-benar dirasakan secara luas,” pungkas Umar.

Upaya terpadu dan strategi tepat sasaran diharapkan mampu menekan permasalahan kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur. (DEVIANA/H)