BORNEONEWS, Denpasar - Denpasar tak hanya melepas ratusan jamaah haji tahun ini. Di antara mereka, ada satu kisah yang diam-diam menyimpan perjalanan panjang—bahkan sejak seorang anak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dhani Aditya Saputra, 17 tahun, awalnya tak pernah benar-benar memahami momen kecil di masa lalunya. Ia hanya ingat pernah diajak ibunya ke sebuah kantor, difoto, dan diminta mengikuti beberapa proses yang terasa asing bagi anak seusianya. Tidak ada yang istimewa saat itu—atau setidaknya, ia belum menyadarinya.
Baru bertahun-tahun kemudian, potongan kenangan itu menemukan maknanya.
“Saya kaget waktu tahu ternyata itu untuk daftar haji,” ujarnya pelan, Sabtu, 26 April 2026.
Ternyata, saat usianya masih sekitar 12 tahun, sang ibu telah mendaftarkannya untuk berhaji—menggantikan ayahnya yang saat itu belum siap berangkat. Keputusan itu diambil diam-diam, dengan satu harapan sederhana: suatu hari, anak laki-laki pertama dalam keluarga itu bisa menapakkan kaki di Tanah Suci.
Nama Dhani akhirnya muncul dalam daftar kuota haji Bali tahun 2026. Ia dan ibunya termasuk di antara 698 jamaah yang akan berangkat. Tanpa pernah diduga sebelumnya, perjalanan yang “dimulai tanpa sadar” itu kini benar-benar menjadi kenyataan.
Namun, di balik keberangkatan yang membanggakan, ada rasa yang tak sepenuhnya mudah dijelaskan—antara haru, cemas, dan tanggung jawab yang datang lebih cepat dari usianya.
Ia mengaku belum pernah umrah. Bahkan, gambaran tentang ibadah haji yang berlangsung hingga 40 hari sempat membuatnya terdiam.
“Yang saya pikirkan itu soal kondisi tubuh, cuaca di sana, dan bagaimana nanti menjalani semuanya,” katanya. “Orang yang sudah umrah mungkin sudah punya gambaran, tapi saya langsung haji.”
Di usianya yang masih remaja, kekhawatiran itu terasa wajar. Tapi Dhani tidak berhenti di rasa cemas. Ia memilih bersiap.
Beberapa bulan terakhir, ia mulai menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memperhatikan kondisi kesehatannya. Ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar ibadah biasa—melainkan perjalanan fisik dan batin yang menuntut kesiapan penuh.
Lebih dari itu, ada satu alasan yang membuat langkahnya terasa lebih mantap.
Dhani akan berangkat bersama sang ibu. Dan di antara ribuan jamaah, ia membawa satu peran yang sederhana namun berat: menjaga orang yang selama ini menjaganya.
“Untuk mama, kita beribadah bersama, jaga kondisi fisik. Saya yang akan jaga mama di sana,” ucapnya.
Hubungan mereka memang dekat. Di luar sekolah, Dhani terbiasa membantu kedua orang tuanya. Kehidupan sehari-hari membentuk kedekatan itu—yang kini berubah menjadi tekad untuk saling menguatkan di Tanah Suci.
Menariknya, perjalanan haji ini juga tak mengganggu pendidikannya. Ibunya yang berprofesi sebagai guru di sekolahnya sendiri telah mengurus segala perizinan. Dukungan pun datang dari teman-teman dan lingkungan sekolah, yang tak sedikit menitipkan doa dan harapan.
Bagi mereka, Dhani bukan hanya seorang siswa yang akan berangkat haji. Ia menjadi semacam cermin—bahwa perjalanan spiritual bisa datang kapan saja, bahkan di usia yang belum banyak orang bayangkan.
Dari sebuah foto masa kecil yang tak dimengerti, hingga langkah pasti menuju Mekkah—kisah Dhani adalah tentang takdir yang disiapkan diam-diam, dan tentang seorang anak yang tumbuh cukup cepat untuk memikul doa keluarganya.
ANTARA









