TAHUN ini, saat program Bantuan Bahan Bacaan Bermutu 1000 buku dari Perpustakaan Nasional tidak lagi berjalan, dampaknya terasa jauh lebih besar daripada sekadar berkurangnya jumlah koleksi di perpustakaan. Yang menghilang bukan hanya buku sebagai benda, tetapi juga semangat dan dinamika gerakan literasi yang selama ini tumbuh perlahan di tengah masyarakat.
Selama ini, bantuan tersebut menjadi penopang penting bagi taman baca, perpustakaan desa, dan berbagai komunitas literasi yang bertumpu pada semangat kebersamaan. Buku-buku yang disalurkan bukan hanya menambah koleksi, melainkan membuka wawasan dan akses pengetahuan bagi berbagai kalangan—dari anak-anak hingga orang dewasa. Ketika distribusi ini terhenti, ruang-ruang belajar pun berisiko mandek: koleksi tidak berkembang, pilihan bacaan menyusut, dan minat membaca bisa ikut menurun.
Selain itu, absennya program ini juga memperlambat penguatan budaya membaca. Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi mencakup keterampilan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa dukungan bahan bacaan yang cukup dan berkualitas, masyarakat—terutama di daerah dengan akses terbatas—akan semakin kesulitan meningkatkan kemampuan literasinya.
Efek berantai pun sulit dihindari. Komunitas literasi yang sebelumnya aktif mengadakan kegiatan berbasis buku kini kehilangan sumber utama penggeraknya. Anak-anak yang dulu menantikan buku baru bisa kehilangan antusiasme. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperlebar jurang literasi antarwilayah dan menghambat terbentuknya masyarakat yang kritis, kreatif, dan mampu beradaptasi.
Karena itu, penghentian program ini bukan semata soal efisiensi anggaran atau perubahan kebijakan, tetapi juga menjadi kemunduran dalam upaya panjang membangun budaya literasi. Tanpa adanya program pengganti yang sepadan, usaha meningkatkan kecakapan literasi masyarakat akan melambat, bahkan bisa kehilangan arah.
Penulis: Kak Nono, adalah pegiat literasi PW Forum TBM Kalteng









