BORNEONEWS, Palangka Raya - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali berdampak pada sektor konstruksi. Kali ini, harga pasir putih mengalami lonjakan signifikan, dari sebelumnya Rp950 ribu per ret kini naik menjadi Rp1,3 juta per ret.
Kenaikan ini dipicu meningkatnya biaya operasional, terutama untuk transportasi dan penggunaan alat berat. Pasir putih yang umumnya didatangkan dari luar daerah kini membutuhkan biaya distribusi lebih tinggi, sehingga harga jual ke konsumen ikut terdongkrak.
Kondisi tersebut membuat masyarakat, khususnya yang sedang membangun rumah atau proyek kecil, mulai mengeluhkan beban biaya yang semakin berat. Pasalnya, pasir putih merupakan salah satu material utama dalam konstruksi.
“Dulu masih bisa dijangkau, sekarang sudah tembus Rp1,3 juta per ret. Ini cukup memberatkan,” keluh salah seorang warga Rani yang tengah membangun rumah Jalan G.Obos Palangka Raya, Senin 27 April 2026.
Sementara itu, pelaku usaha material Udi juga mengakui bahwa kenaikan harga sulit dihindari. Selain BBM, faktor lain seperti keterbatasan pasokan dan tingginya permintaan turut memengaruhi harga di pasaran.
"Ambil pasir dari Tangkiling menuju Palangka Raya, ya benar harga sekaranya 1,3 juta per ret" tambahnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat turun tangan untuk mengendalikan harga material bangunan agar tidak semakin melonjak, sehingga aktivitas pembangunan tetap bisa berjalan di tengah tekanan ekonomi saat ini. (MARINI/H)









