SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Upaya pemeliharaan Jembatan Sei Mentaya 1 atau yang dikenal sebagai Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono Sampit dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan kerusakan yang terjadi berulang.

"Kami berharap perbaikan total. Harus benar-benar kuat supaya tidak cepat rusak lagi. Bukan sekedar pemeliharaan seperti ini," ujar Windarto, salah satu warga, Senin, 27 April 2026.

Jembatan tersebut selama ini kerap dikeluhkan masyarakat karena sering mengalami kerusakan di bagian lantai jembatan. Baut yang lepas, kayu patah, lantai berlubang, hingga pelat besi yang terlepas menjadi masalah yang terus berulang.

Warga menilai, pola penanganan yang hanya bersifat pemeliharaan tidak cukup untuk mengatasi persoalan secara permanen.

"Kerusakannya selalu sama. Setiap dilaporkan memang diperbaiki, tapi tidak pernah tuntas. Tidak bisa terus seperti ini," tambahnya.

Bahkan, kondisi jembatan yang rusak disebut telah memicu kecelakaan lalu lintas. Salah satunya insiden kecelakaan tunggal yang terjadi pada Sabtu malam, 25 April 2026, yang menelan korban jiwa.

Tingginya intensitas kendaraan bertonase besar yang melintas di jalur tersebut diduga menjadi salah satu penyebab utama kerusakan yang terus berulang.

Masyarakat pun mendesak pemerintah daerah agar segera mengambil langkah perbaikan total, bukan sekadar pemeliharaan berkala.

"Jangan sampai harus menunggu korban berikutnya baru ada perbaikan besar," tambahnya.

Diketahui, pemeliharaan jembatan kembali dilakukan oleh Dinas SDABMBKPRKP Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Senin pagi, 27 April 2026. Selama proses perbaikan berlangsung, akses jembatan ditutup sementara. (DEWI PATMALASARI/H)