BORNEONEWS, Sampit – Kabar baik bagi sektor transportasi udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pesawat berbadan besar jenis Airbus A320 milik maskapai Super Air Jet dijadwalkan melakukan pendaratan perdana di Bandara H Asan Sampit pada 7 Mei 2026.
"Kita sudah menerima jadwal dari pimpinan Lion Group bahwa insyaallah tanggal 7 Mei itu landing perdana pesawat airbus A320 Super Air Jet di Bandara H Asan Sampit," kata Bupati Kotim Halikinnor, Senin, 27 April 2026.
Ia menjelaskan, meski lebar landasan pacu bandara saat ini masih sekitar 30 meter di bawah standar ideal 45 meter, hasil kajian teknis menyatakan pesawat Airbus tetap dapat mendarat dengan aman.
"Mudah-mudahan pendaratan pertama ini berjalan lancar. Secara teknis sudah dinyatakan bisa," tambahnya.
Pada tahap awal, Super Air Jet akan melayani rute Sampit-Jakarta pulang pergi (PP). Ke depan, rute penerbangan berpotensi diperluas ke sejumlah kota besar lainnya seperti Surabaya dan Semarang. Selain itu, maskapai juga membuka peluang untuk mendukung konektivitas perjalanan ibadah haji dan umrah.
Halikinnor menyebut, kehadiran pesawat berbadan besar ini tidak hanya meningkatkan mobilitas penumpang, tetapi juga memperkuat sektor logistik melalui angkutan kargo.
"Pesawat ini tidak hanya membawa penumpang, tapi juga kargo. Ini tentu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah," ujarnya.
Bahkan, informasi yang diterima pemerintah daerah, penerbangan perdana tersebut direncanakan turut dihadiri oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara.
"Jadi saya nanti mungkin mendampingi beliau. Karena ini pertama kali pesawat besar landing di Bandara H Asan Sampit," imbuhnya.
Halikinnor juga berharap hadirnya maskapai baru dengan pesawat berkapasitas besar dapat menciptakan persaingan antar maskapai, sehingga berdampak pada penurunan harga tiket pesawat.
"Paling tidak dengan ada pesawat ini ada pilihan penerbangan. Otomatis bila ada kompetisi mudah-mudahan bisa mengurangi harga tiketnya apalagi ini pesawat airbus dengan kapasitas lebih besar daripada Boeing," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









