PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Forum Group Discussion atau FGD internasional bertajuk penguatan ketahanan air digelar di Desa Habeahan pada 22 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pengabdian Universitas Sumatera Utara atau USU yang diketuai Prof. Dr. Rahmawaty.

FGD tersebut menghadirkan dua narasumber dari Malaysia, yakni Prof. Seca Gandaseca dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) dan Prof. Hasmadi dari Universiti Putra Malaysia (UPM). Dalam paparannya, keduanya menekankan pentingnya peran sumber daya manusia (SDM) sebagai pilar utama dalam menjaga keberlanjutan pembangunan ketahanan air di wilayah pedesaan.

Menanggapi paparan tersebut, seorang rohaniawan sekaligus pengamat budaya Batak Toba, Agus Simanullang, menyampaikan bahwa pembahasan SDM di kawasan pedesaan Batak Toba tidak dapat dilepaskan dari falsafah hidup masyarakat setempat.

Ia mengutip pepatah (umpasa) Batak Toba yang populer, yakni “Anakkon hi do hamoraon di au” yang secara etimologis berarti anak adalah kekayaan atau kehormatan orang tua. Menurutnya, nilai ini menempatkan anak sebagai harta paling berharga, sumber motivasi, sekaligus harapan masa depan keluarga yang melampaui nilai materi.

“Falsafah ini menempatkan anak bukan sekadar penerus keturunan, tetapi sebagai aset berharga yang harus dididik dan diberdayakan untuk mengubah nasib keluarga dan komunitas,” ujar Agus dalam rilis yang diterima, Selasa, 28 April 2026.

Diskusi yang difasilitasi Ir. Yusak Maryunianta, M.P. itu turut dihadiri sejumlah pejabat daerah, di antaranya Asisten Pemerintahan dan Administrasi Umum Ir. Sabar Purba, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan, Ekonomi dan Pembangunan Drs. Parman Lumbangaol, Kepala Dinas Pembangunan Masyarakat Desa Kartini Sinambela, S.Sos., M.AP., serta Camat Lintongnihuta Ronald Nababan, bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga setempat.

Dari hasil diskusi, dirumuskan sejumlah poin penting terkait implementasi falsafah tersebut dalam pembangunan desa berkelanjutan. Di antaranya peningkatan kualitas SDM melalui prioritas pendidikan anak, dorongan meraih pendidikan tinggi hingga merantau, serta pemerataan akses pendidikan bagi laki-laki dan perempuan.

Selain itu, falsafah tersebut juga mendorong terbentuknya etos kerja keras di kalangan orang tua yang rela berkorban demi pendidikan anak. Dampaknya, anak-anak yang berhasil diharapkan mampu kembali membangun desa, baik melalui kontribusi pengetahuan maupun dukungan terhadap pembangunan infrastruktur.

Pada akhir kegiatan, Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan bersama para narasumber dan peserta FGD sepakat bahwa falsafah “Anakkon hi do hamoraon di au” harus terus dilestarikan dan diimplementasikan dalam pembangunan Desa Habeahan serta wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan secara berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/j)