BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Palangka Raya, Iin Hendrayati Idris, menyampaikan bahwa Tari Mandau merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang sangat berharga milik suku Dayak di Kalimantan Tengah.
Sebagai tarian perang tradisional, pertunjukan ini memamerkan keterampilan menggunakan senjata khas berupa mandau, yang disajikan lewat gerakan yang dinamis, lincah, dan sering kali memukau seperti berputar serta mengayunkan senjata dengan kecepatan tinggi.
Menurut Iin, di balik keindahan dan kelincahan gerakannya, tarian ini menyimpan makna mendalam yang mencerminkan sifat dan karakter masyarakat setempat.
"Tari Mandau melambangkan keberanian, harga diri, serta ketangkasan para leluhur dan prajurit Dayak dalam menghadapi segala tantangan dan ancaman," katanya, Selasa 28 April 2026.
Selama pertunjukan, irama musik yang lantang dan penuh semangat turut mengiringi, dimainkan menggunakan alat musik tradisional seperti garantung, kakanung, dan alat musik lainnya yang semakin menghidupkan suasana.
Dijelaskannya pula, nama tarian ini diambil langsung dari nama senjata yang digunakan, yaitu mandau, sejenis parang panjang yang memiliki ukiran khas dan keunikan tersendiri.
Bagi masyarakat Dayak, benda ini bukan sekadar alat pertahanan atau perang, melainkan dianggap sebagai benda keramat yang memiliki makna filosofis. Mandau menjadi simbol harga diri, keberanian, serta semangat juang yang tidak pernah mengenal kata menyerah.
Lebih lanjut, Iin menguraikan bahwa secara mendasar, tarian ini mengandung tiga makna pokok. Pertama, ketangguhan, yang menggambarkan kesiapan dan kewaspadaan tinggi para prajurit ketika menghadapi lawan.
Kedua, pertahanan diri, yang ditampilkan lewat rangkaian gerakan yang indah namun sebenarnya merupakan teknik bela diri yang ampuh. Ketiga, harmoni, yang mengajarkan keseimbangan antara kekuatan fisik dan kemampuan mengendalikan emosi agar tidak bertindak sembarangan.
Dalam pelaksanaannya, Tari Mandau dikenal memiliki ciri khas gerakan yang enerjik dan bahkan mengandung unsur ketangkasan yang tinggi.
Para penari tidak hanya mengayunkan senjata dengan cepat namun tetap terkontrol, melainkan juga menampilkan atraksi-atraksi istimewa, seperti menggigit mandau atau menapakkan kaki di atas mata pisau yang tajam.
Hal ini menunjukkan kekuatan batin, keyakinan, serta tingkat konsentrasi yang sangat tinggi. Selain itu, penari juga harus mampu mengatur keseimbangan tubuh saat memainkan perisai dan mandau secara bersamaan, disertai langkah kaki yang lincah mengikuti irama musik.
Kini, seiring dengan perkembangan zaman, fungsi dan tujuan pertunjukan Tari Mandau pun mengalami perubahan dan perluasan makna.
Dahulu tarian ini kerap ditampilkan menjelang atau sesudah peperangan, namun saat ini telah bertransformasi menjadi simbol penghormatan, keindahan budaya, dan daya tarik wisata.
Kini tarian ini kerap dihadirkan dalam rangka penyambutan tamu kehormatan, menjadi bagian penting dari acara festival budaya, serta tetap dipertahankan sebagai bagian tak terpisahkan dari rangkaian upacara adat besar.
"Pemko Palangka Raya terus berupaya melestarikan dan mempromosikannya agar warisan budaya ini tetap terjaga dan dikenal oleh generasi mendatang," pungkasnya. (PATHUR/H)








