BORNEONEWS, Sampit - Diskusi publik yang digelar Majelis Kopikir menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mengantisipasi fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).
"Kami mendorong adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, institusi pendidikan, tenaga kesehatan, serta keluarga, sehingga upaya pembinaan dan pencegahan dapat berjalan lebih efektif," kata Pengasuh Majelis Kopikir, Dwi Sulistio, M.Ag.
Isu LGBT menjadi sorotan dalam diskusi publik Majelis Kopikir yang digelar di ZeeKafe Sampit, Minggu, 26 April 2026. Diskusi bertema 'LGBT: Kebebasan atau Kebablasan' tersebut menjadi ruang dialog terbuka untuk mengkaji bagaimana masyarakat dapat merespons fenomena ini secara proporsional.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang profesi yang memberikan perspektif terkait isu LGBT. Narasumber tersebut yakni Dwi Sulistio selaku aktivis dakwah, Bung Adhi seorang aktivis sosial, Nugroho K. Yudho yang aktif sebagai tenaga kesehatan, Vina Witri Astuti seorang psikolog, dan Fahrizal sebagai praktisi pendidikan.
Lanjutnya, dukungan kebijakan yang jelas dan terintegrasi sangat diperlukan untuk memperkuat upaya pembinaan, khususnya di lingkungan sekolah dan keluarga.
Selain itu, masa remaja disebut sebagai fase penting dalam pembentukan identitas diri. Pada tahap ini, peran keluarga, lingkungan sosial, serta arus informasi digital dinilai memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan individu. Sehingga keluarga diharapkan mampu memperkuat komunikasi dan pendampingan terhadap anak.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tetap menjaga kepedulian sosial serta bersikap bijak dalam menyikapi berbagai fenomena yang berkembang. Pemanfaatan media digital pun perlu diarahkan ke hal-hal yang lebih edukatif dan konstruktif.
Dari perspektif psikologi, pendekatan yang komunikatif, edukatif, dan tidak reaktif dinilai menjadi kunci dalam menyikapi isu tersebut, khususnya bagi kalangan remaja. Pendekatan yang tepat diyakini dapat membantu generasi muda memahami nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
"Kami berharap diskusi ini dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun kesadaran kolektif. Diperlukan kolaborasi lintas sektor dengan visi yang selaras, guna menghadirkan pendekatan yang konstruktif, edukatif dan berorientasi pada masa depan generasi," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









