PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Kegiatan Teknis Kelapa Sawit (TKS), Pameran dan Field Trip 2026 resmi digelar di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Selasa, 28 April 2026.

Acara yang berlangsung di Hotel Mercure Pangkalan Bun ini mengangkat isu strategis terkait peningkatan produktivitas sawit dan ancaman penyakit Ganoderma.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 28–30 April 2026, mengusung tema “Kiat Sukses Meningkatkan Produktivitas Sawit”.

Selain diskusi teknis, kegiatan ini juga diramaikan dengan pameran berbagai produk dan alat unggulan yang mendukung sektor perkebunan kelapa sawit.

Wakil Ketua GAPKI Kalimantan Tengah, Siswanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kali kedua digelar di Kalimantan Tengah, dan diharapkan dapat terus berlanjut secara berkala di berbagai daerah.

“Harapannya kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara periodik dengan lokasi yang berbeda, sehingga memberikan manfaat luas bagi pelaku usaha dan petani sawit,” ujarnya.

Ia menambahkan, industri kelapa sawit saat ini menghadapi tantangan serius, mulai dari masalah tumpang tindih lahan dan juga regulasi, yakni munculnya berbagai aturan baru yang harus diikuti oleh pelaku usaha maupun petani.

“Kami di GAPKI tentu berkomitmen mengikuti aturan yang berlaku, begitu juga para petani. Dengan keyakinan itu, kami optimistis perkembangan sawit di Kotawaringin Barat dan Kalimantan Tengah akan tetap berlanjut,” katanya.

Menurutnya, kelapa sawit masih menjadi komoditas unggulan di Kalimantan Tengah dan memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi daerah.

“Kita tahu sawit ini menjadi idola di Kalimantan Tengah. Harapannya, sawit semakin dicintai dan para pemangku kebijakan dapat memberikan dukungan terbaik bagi kemajuan industri ini,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pelaksana/Pemimpin Usaha Media Perkebunan, Hendra J Purba, menegaskan bahwa tema yang diangkat dalam kegiatan ini sangat teknis dan relevan dengan kondisi terkini industri sawit.

“Kita membanggakan sawit sebagai devisa negara dan penopang ekonomi. Tapi jangan hanya bangga, karena ada ancaman nyata yang harus dihadapi,” tegas Hendra.

Ia mengungkapkan bahwa produktivitas kelapa sawit di Indonesia cenderung mengalami penurunan setiap tahun, yang menjadi persoalan serius bagi keberlanjutan industri ini.

“Faktanya produktivitas setiap tahun menurun. Salah satu faktor adalah perubahan iklim, di mana tahun ini diprediksi akan memasuki El Nino panjang. Kalau tidak diantisipasi, produktivitas bisa kembali turun,” jelasnya.

Selain faktor iklim, ancaman hama dan penyakit juga menjadi perhatian utama, khususnya penyakit Ganoderma yang dinilai sangat berbahaya bagi tanaman sawit.

Ganoderma (Ganoderma boninense) adalah jamur patogen tular tanah yang menyebabkan penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) mematikan pada kelapa sawit.

“Ganoderma ini ancamannya luar biasa. Di Malaysia sudah ditangani sejak pembibitan. Sementara di kita, biasanya baru diketahui setelah pohon tumbang. Bahkan di kebun petani di Sumatera, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena terlambat menyadari,” ungkapnya.

Hendra menilai, kondisi tersebut sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak, termasuk pemerintah.

“Ini yang menjadi latar belakang kegiatan ini digelar di Kalimantan Tengah, khususnya Kotawaringin Barat yang memiliki lahan sawit luas. Kita ingin ada kesadaran bersama,” katanya.

Ia juga mengapresiasi GAPKI Kalimantan Tengah yang telah membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk petani swadaya dan pelaku usaha di luar organisasi.

“Kami sangat mengapresiasi karena peserta yang hadir tidak hanya dari GAPKI, tapi juga kelompok tani, petani swadaya, dan pelaku usaha lainnya. Ini penting agar pengetahuan bisa menyebar luas,” ucapnya.

Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan di daerah seperti Kalimantan Tengah menjadi langkah strategis, mengingat selama ini kegiatan serupa lebih sering digelar di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali.

“Ini jadi perhatian kami agar kegiatan seperti ini lebih banyak dilakukan di daerah. Karena di sinilah pusat perkebunan sawit berada,” jelasnya.

Hendra pun mengingatkan, bahwa tanpa upaya serius dalam meningkatkan produktivitas dan mengatasi ancaman penyakit, masa depan industri sawit bisa terancam.

“Jangan sampai 5 tahun ke depan, atau saat bonus demografi menuju 2045, kita justru kehilangan kejayaan sawit karena kurangnya perhatian. Ancaman Ganoderma ini nyata dan harus ditangani sejak dini,” pungkasnya. (DANANG/H)