BORNEONEWS, Bekasi – Duka mendalam menyelimuti dua keluarga korban kecelakaan kereta api di Bekasi. Insiden yang melibatkan KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin petang, 27 April 2026, merenggut nyawa Adelia Rifani (26) dan Nurlaela (37).
Di Perumahan Bekasi Regensi 1, Cibitung, isak tangis keluarga Adelia tak terbendung. Perjalanan pulang yang biasanya sederhana berubah menjadi kabar duka yang datang menjelang tengah malam.
Ayah korban, Rusli, mengaku tidak memiliki firasat apa pun. Malam itu ia sudah bersiap menjemput putrinya di Stasiun Cibitung, seperti rutinitas yang kerap dilakukan.
“Biasanya saya jemput. Malam itu sudah siap, tapi sampai sekitar jam setengah 10 tidak ada kabar,” ujarnya lirih.
Keluarga pun bergegas mencari ke lokasi kejadian dan sejumlah rumah sakit. Harapan sempat menggantung, hingga akhirnya kabar duka datang sekitar pukul 23.00 WIB. Adelia ditemukan di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dalam kondisi meninggal dunia.
Adelia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Lulusan Geofisika Universitas Brawijaya itu baru empat bulan bekerja di Jakarta, meniti awal kemandirian hidupnya.
Di mata keluarga dan lingkungan, Adelia dikenal sebagai pribadi aktif dan hangat. Ia mudah bergaul dan tetap menjaga kedekatan dengan keluarga di tengah kesibukan barunya.
Kini, rutinitas sederhana itu terhenti. Adelia dimakamkan di TPU Wanajaya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.
Ucapan belasungkawa turut disampaikan tokoh masyarakat sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Budi Muhammad Mustofa, yang menyebut kepergian Adelia sebagai kehilangan bagi lingkungan.
“Semoga almarhumah diterima amal ibadahnya dan keluarga diberi ketabahan,” ujarnya.
Plt Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, juga menyampaikan belasungkawa serta menegaskan pemerintah daerah akan mengevaluasi aspek keselamatan, khususnya di titik rawan perlintasan kereta.
Di lokasi berbeda, duka serupa juga menyelimuti keluarga Nurlaela di Cikarang Timur. Guru PNS yang akrab disapa Bu Guru Ela itu ditemukan setelah sempat dicari keluarga sejak malam kejadian.
Jenazah Nurlaela tiba di rumah duka sekitar pukul 03.00 WIB. Ia diketahui mengalami luka serius akibat kecelakaan tersebut.
Nurlaela sehari-hari mengajar di SD Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras, pendiam, dan penuh tanggung jawab.
Tiga bulan sebelum kejadian, ia baru menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta. Dedikasinya di dunia pendidikan juga tercermin dari perannya sebagai bendahara dan pengelola perpustakaan sekolah.
Nurlaela meninggalkan seorang anak yang masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.
Perjalanan pulang yang biasa kini menjadi perjalanan terakhir bagi keduanya. Tragedi ini tak hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya keselamatan transportasi.
Di balik peristiwa ini, tersimpan kisah tentang mimpi yang tengah dirintis, namun terhenti di rel kereta api.
ANTARAasi.









