PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kunjungan siswa Kolese Kanisius Jakarta dalam program live in di SMAK Santo Aloysius Palangka Raya mendapat sambutan positif dari Uskup Keuskupan Palangka Raya, Aloysius M Sutrisnaatmaka. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan yang dinilai sarat nilai pembelajaran dan pembentukan karakter.

Direktur SMAK Santo Aloysius, RD Romanus Romas, menyampaikan bahwa kehadiran para siswa dari Jakarta tidak hanya menjadi ajang kunjungan, tetapi bagian dari proses pembelajaran hidup bersama yang menyentuh aspek iman, sosial, dan budaya.

Dalam sambutannya, Uskup Palangka Raya berharap para siswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk saling belajar satu sama lain.

"Interaksi lintas daerah menjadi sarana penting dalam memperluas wawasan dan membangun sikap saling menghargai," kata Bapa Uskup.

Selain itu, para peserta juga diharapkan mampu mengenal dan belajar budaya setempat selama berada di Kalimantan Tengah. Pengalaman ini dinilai penting agar generasi muda memiliki kepekaan terhadap keberagaman yang ada di Indonesia.

Tidak hanya itu, Uskup juga menekankan pentingnya menyatu dengan masyarakat.

"Melalui program live in, para siswa diajak untuk merasakan langsung kehidupan umat dan memahami realitas yang dihadapi dalam keseharian," tuturnya.

Ia pun berpesan agar para siswa dapat menjadi terang dalam setiap perjumpaan dengan sesama. Nilai tersebut diharapkan tidak hanya hadir selama kegiatan berlangsung, tetapi terus dihidupi dalam kehidupan mereka ke depan.

Setelah berdiam selama dua hari ini SMAK Santo Aloysius dengan berbagai kegiatan mulai dari pendalaman iman hingga penanaman pohon, pagi ini rombongan melanjutkan perjalanan untuk perjalanan ke wilayah pedalaman, yakni stasi-stasi di Paroki Yesus Gembala Baik Palangka Raya dan Paroki Santo Gabriel Pulang Pisau. Di sana, mereka akan tinggal bersama umat dan merasakan langsung kehidupan masyarakat.

Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan seminar misi pada 1 Mei sebelum rombongan kembali ke Jakarta pada 2 Mei. Melalui seluruh proses ini, semangat “Man for Others, Man for God” diharapkan tidak sekadar menjadi tema, tetapi sungguh dihidupi dalam tindakan nyata para peserta. (TESTI PRISCILLA/j)