SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Desa Bangkuang Makmur dan Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ditetapkan sebagai desa pilot project layanan kesehatan primer yang kini berjalan dengan baik sejak dimulai pada tahun 2025. Program strategis ini didanai oleh Kementerian Kesehatan dan Bank Dunia sebagai bagian dari upaya meningkatkan mitigasi kesehatan dan deteksi dini penyakit di tingkat desa Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, menjelaskan bahwa keberadaan pilot project ini juga didukung dengan penempatan tenaga kesehatan dari Kementerian Kesehatan di Dinas Kesehatan Kotim guna mengawal pelaksanaan program secara teknis dan berkelanjutan.

“Pilot project ini anggarannya dari Kementerian Kesehatan dan Bank Dunia. Bahkan Kemenkes menempatkan tenaganya di sini di Dinkes. Mereka inilah yang membackup kami dalam pelaksanaan kegiatan,” ucap Umar, Rabu, 29 April 2026.

Dalam proyek tersebut, tenaga perawat ditugaskan secara khusus untuk mendata seluruh penduduk di kedua desa tersebut dengan memasukkan data ke dalam aplikasi khusus yang memudahkan pengelolaan informasi kesehatan masyarakat secara real-time.

“Kami punya tenaga di bidang perawat yang tugasnya mendata semua penduduk di desa tersebut dan memasukkannya ke aplikasi,” katanya.

Aplikasi itu berfungsi sebagai alat untuk memonitor kondisi kesehatan dan menjadi dasar bagi petugas serta Dinas Kesehatan dalam menganalisis penyakit yang dominan di wilayah tersebut serta merencanakan langkah-langkah intervensi yang tepat dan efektif.

“Jadi yang menentukan kasus penyakit di desa itu adalah aplikasi. Kami melihat data itu dan menganalisa penyakit apa yang tinggi dan langkah apa yang harus dilakukan. Data ini juga digunakan untuk merencanakan program kesehatan ke depan,” jelasnya.

Umar Kaderi optimistis bahwa bila pilot project ini berhasil dan diimplementasikan secara menyeluruh di seluruh desa di Kotim, maka deteksi dini dan penanganan penyakit akan semakin optimal. Hal ini sangat penting mengingat berbagai kasus penyakit menular seperti demam berdarah, hepatitis, tuberkulosis, dan penyakit lain kerap menjadi tantangan di daerah ini.

“Harapan kami semua desa di Kotim dapat menerapkan program ini sehingga kita dapat mendeteksi kasus secara dini dan melakukan tindakan cepat, terutama untuk penyakit dengan pola klaster tertentu yang ada di beberapa wilayah,” ujarnya.

Proyek ini mendapat dukungan sumber dana dari Global One dan Bank Dunia selain Kementerian Kesehatan. Tenaga pendamping dari Kemenkes juga aktif memberikan bimbingan teknis dan pengaturan tahapan kerja sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

“Alhamdulillah dua lokasi pilot project sudah berjalan dengan bagus. Kemenkes dan Bank Dunia memberikan dukungan anggaran dan tenaga untuk membackup tahapan pekerjaan kami,” tambahnya.

Fokus utama proyek ini adalah pada screening kesehatan yang dilakukan secara preventif dan promotif guna mencegah dan mengendalikan penyakit secara efektif. Kementerian Kesehatan juga dijadwalkan melakukan evaluasi rutin atas pelaksanaan program di lapangan demi memastikan hasil yang optimal.

“Nanti Kementerian Kesehatan akan datang ke Kotim untuk melihat dan mengevaluasi hasil proyek ini sehingga dapat memastikan efektivitas screening dan pencegahan penyakit di tingkat primer,” tutup Umar.

Melalui penerapan inovasi teknologi aplikasi dan sinergi lintas lembaga, Dinas Kesehatan Kotim berkomitmen memperkuat layanan kesehatan primer agar menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan pelayanan kesehatan yang optimal hingga ke pelosok daerah. (DEVIANA/y)