JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran pemegang konsesi pemanfaatan hutan serta memberikan intervensi serius pada perkebunan rakyat, guna memitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul adanya ancaman fenomena El Nino.

"Saya akan kerja keras memastikan mitigasi kebakaran hutan itu dilakukan dengan betul-betul serius karena El Nino kemungkinan yang terpanjang, bisa sampai Oktober-November. Kalau ini terjadi, kita repot," kata Menteri LH Jumhur Hidayat dalam konferensi pers selepas acara serah terima jabatan dengan Hanif Faisol di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Jakarta, Rabu 29 April 2026.

Menurut Jumhur, memastikan para pemegang konsesi kehutanan maupun perkebunan kelapa sawit menjalankan prosedur pencegahan secara ketat sesuai regulasi yang berlaku menjadi salah satu strategi utama dalam menekan angka karhutla.

Selain itu penguatan infrastruktur pencegahan oleh korporasi, seperti pembuatan parit dan genangan air untuk menjaga kelembapan lahan di area konsesi, kata dia,  juga menjadi hal penting dan akan dilaksanakan KLH/Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH). 

"Kita pastikan mereka lebih tangguh lagi. Ada tata caranya untuk membuat parit dan genangan air agar lahan tetap basah. Itu harus dipastikan berjalan," kata Menteri LH Jumhur.

Ia juga menyoroti tantangan besar pada lahan hutan dan kebun terbuka atau open access yang dikelola oleh masyarakat. Menurutnya, wilayah non-korporasi ini memerlukan intervensi negara yang lebih serius karena keterbatasan edukasi dan fasilitas pencegahan.

Terkait hal tersebut, ia berencana menggulirkan dukungan dana untuk membantu masyarakat dalam pembuatan infrastruktur pencegahan karhutla secara mandiri.

"Masyarakat mungkin kurang teredukasi soal itu, karena itu ada pemikiran untuk memberikan dukungan dana guna membantu pembuatan parit dan genangan air bagi lahan open access. Jika itu terjadi, harusnya kebakaran bisa kita tekan," kata Menteri LH Jumhur Hidayat.

Sebagaimana laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengumumkan musim kemarau tahun 2026 berpotensi bersifat lebih kering jika dibandingkan dengan nilai rata-ratanya selama periode 30 tahun terakhir.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026, kehadiran fenomena inilah yang berpengaruh pada berkurangnya intensitas curah hujan di wilayah Indonesia, sekaligus memengaruhi kelembaban khususnya lahan mineral gambut sehingga rentan terbakar ketika puncak musim kemarau.

Intensitas El Nino tersebut diperkirakan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan III tahun 2026, tepatnya sekitar bulan Agustus, September, hingga Oktober atau bertepatan dengan puncak musim kemarau sebagaimana analisis dari tim klimatologi BMKG.

ANTARA