BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Deru mesin menggelegar memecah sunyi malam di Kuala Kapuas. Di Jalan Tambun Bungai, belasan anak muda terlihat menggeber sepeda motor mereka, melaju kencang di ruas jalan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi semua pengguna.
Pemandangan tersebut bukan lagi hal yang sepenuhnya asing. Kemunculannya yang berulang menunjukkan bahwa balap liar telah bergerak lebih jauh dari sekadar pelanggaran lalu lintas, menuju fenomena sosial yang perlahan mengakar di kalangan anak muda.
Penindakan oleh aparat kepolisan memang kerap dilakukan dan sepatutnyalah di apresiasi. Namun, kemunculan kembali di titik yang sama memberi gambaran bahwa persoalan ini belum sepenuhnya selesai.
Balap liar, dalam konteks ini, tidak hanya berkaitan dengan kecepatan, tetapi juga tentang bagaimana anak muda mencari ruang untuk dilihat dan diakui. Jalan umum yang terbuka, dengan kehadiran penonton dan interaksi langsung, menghadirkan suasana yang berbeda dibanding ruang formal yang lebih tertib.
Psikolog perkembangan Laurence Steinberg menyebut masa remaja sebagai periode meningkatnya dorongan mencari sensasi dan pengakuan sosial, sementara kemampuan mengendalikan risiko masih dalam proses berkembang. Dalam situasi tertentu, kombinasi ini dapat mendorong perilaku yang cenderung berani mengambil risiko.
Di sisi lain, keberadaan fasilitas seperti sirkuit belum tentu sepenuhnya menjadi pilihan. Ada jarak antara ruang yang disediakan dengan ruang yang dirasakan “hidup” oleh anak muda, terutama ketika aspek perhatian publik dan interaksi sosial menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.
Lingkungan sekitar turut membentuk dinamika ini. Kehadiran penonton, respons teman sebaya, hingga eksposur di media sosial memperkuat daya tarik balap liar sebagai sebuah pengalaman kolektif, bukan sekadar aktivitas individu.
Dalam konteks tersebut, penanganan balap liar tampaknya membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penertiban, tetapi juga memahami bagaimana ruang-ruang ekspresi itu terbentuk dan digunakan. Upaya menghadirkan alternatif yang tetap memiliki daya tarik sosial menjadi bagian dari upaya tersebut.
Peran keluarga juga hadir dalam ruang yang berbeda. Pengawasan, komunikasi, dan cara memaknai kebebasan menjadi bagian dari keseharian yang ikut membentuk pilihan anak muda di luar rumah.
Di saat yang sama, ruang jalan tetap memiliki fungsi utamanya sebagai fasilitas publik yang aman bagi semua. Ketika fungsi ini bergeser, risiko yang muncul tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga oleh pengguna jalan lainnya.
Pada akhirnya, balap liar tidak berdiri sendiri. Ia berada di antara kebutuhan akan pengakuan, ruang sosial, dan batas-batas yang terus dinegosiasikan. Memahaminya sebagai bagian dari dinamika yang lebih luas menjadi langkah awal untuk melihat persoalan ini secara lebih utuh. (SABRIANOOR/j)









