SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Harga sapi kurban di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengalami kenaikan hingga Rp1 juta per ekor menjelang Hari Raya Iduladha 2026. Kenaikan ini dipicu meningkatnya biaya transportasi dan operasional, terutama akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

Salah seorang pedagang sapi di Sampit, Daeng Beta, mengatakan setiap tahun dirinya membuka lapak penjualan sapi kurban di Jalan HM Arsyad. Tahun ini, jumlah sapi yang didatangkan mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

"Tahun ini sekitar 800 ekor. Ada pesanan dari gubernur sekitar 500 ekor, jadi untuk masyarakat umum sekitar 250 sampai 300 ekor," ujarnya, Kamis, 30 April 2026.

Ia menjelaskan, kenaikan harga sapi tidak bisa dihindari karena biaya pengiriman yang ikut meningkat, terutama pada ongkos angkutan dan administrasi.

"Harga naik sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per ekor karena surat-surat dan mobil solar naik," katanya.

Untuk harga jual, sapi yang ditawarkan bervariasi tergantung jenis dan ukuran. Sapi jenis limousin dengan bobot sekitar 1 ton dijual hingga Rp75 juta, sementara sapi jenis Bali dibanderol antara Rp18 juta hingga Rp35 juta.

"Paling kecil beratnya sekitar 270 kilogram. Dagingnya bisa 70 sampai 80 kilogram," jelasnya.

Meski harga mengalami kenaikan, minat masyarakat untuk berkurban dinilai tetap tinggi. Bahkan, sejumlah pembeli dari kalangan masjid dan pelanggan tetap sudah melakukan pemesanan lebih awal dengan sistem uang muka (DP).

"Yang paling banyak diminati itu harga Rp20 juta sampai Rp25 juta," bebernya.

Ia menambahkan, seluruh sapi yang didatangkan telah melalui proses karantina selama 20 hari sebelum dijual, serta dilengkapi barcode sebagai tanda bahwa hewan dalam kondisi sehat.

"Kami datangkan sapi ini sejak sebulan lalu dari Sulawesi, dan semuanya sudah melalui proses pemeriksaan kesehatan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)