BORNEONEWS, Palangka Raya - Baru-baru ini di Kota Palangka Raya kembali ditemukan ternak babi yang mengalami African Swine Fever atau ASF di wilayah Kota Palangka Raya, sehingga hal ini kembali menjadi perhatian serius. Penyakit yang menyerang ternak babi ini diketahui memiliki tingkat kematian tinggi dan hingga kini belum ditemukan vaksin maupun obat yang efektif untuk menanganinya.
Kepala Puskeswan Kalampangan, drh Eko Hari Yuwono, mengingatkan para peternak agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus tersebut.
"Muncul lagi, walaupun sempat divaksinasi sehingga meminimalisir kerugian peternak namun akhirnya tetap ada dua ekor babi yang mati karena ASF ini," kata drh Eko pada Kamis, 30 April 2025.
Ia menegaskan, langkah pencegahan menjadi satu-satunya cara paling efektif untuk melindungi ternak dari ancaman ASF.
Menurut Eko, penerapan biosecurity atau sistem keamanan hayati secara ketat harus menjadi prioritas utama di setiap peternakan. Hal ini mencakup pembatasan akses keluar-masuk kandang, penyemprotan disinfektan secara rutin, hingga memastikan pakan yang diberikan bebas dari kontaminasi.
“Peternak harus disiplin menerapkan biosecurity. Jangan sampai ada celah, karena virus ini sangat mudah menyebar, baik melalui peralatan, kendaraan, maupun manusia yang keluar-masuk kandang,” tegas Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia atau PDHI Provinai Kalimantan Tengah ini.
Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan gejala mencurigakan pada ternak babi, seperti demam tinggi, lemas, kehilangan nafsu makan, hingga kematian mendadak. Deteksi dini dinilai penting untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.
Pemerintah melalui dinas terkait bersama Puskeswan terus melakukan pemantauan dan edukasi kepada masyarakat.
"Kita harapkan, dengan kerja sama antara peternak dan pemerintah, penyebaran ASF di Kota Palangka Raya dapat ditekan dan tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)









