PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kedatangan rombongan siswa Kolese Kanisius Jakarta di SMAK Santo Aloysius Palangka Raya disambut hangat oleh komunitas sekolah dengan nuansa adat Dayak yang kental pada Senin malam, 27 April 2026. Penyambutan ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan live in yang sarat makna.

Direktur SMAK Santo Aloysius, RD Romanus Romas, mengungkapkan bahwa penyambutan berbasis budaya lokal merupakan bagian penting dalam memperkenalkan identitas Kalimantan Tengah kepada para peserta.

"Pengalaman ini diharapkan membuka wawasan siswa terhadap keberagaman budaya di Indonesia," kata Pastor Roman kepada Borneonews pada Kamis, 30 April 2026.

Pastor Roman menuturkan bahwa SMAK Santo Aloysius dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki kekhasan sebagai sekolah berasrama dengan pendekatan sekolah alam.

"Model pendidikan ini menekankan pembentukan karakter, spiritualitas, serta kepedulian terhadap sesama," terangnya.

Suasana kebersamaan semakin terasa saat para siswa mengikuti makan malam bersama seluruh komunitas sekolah. Interaksi yang terbangun sejak awal menjadi jembatan untuk mempererat relasi antar peserta.

Kegiatan hari pertama kemudian ditutup dengan completorium atau doa malam. Momen ini menghadirkan suasana reflektif yang mengajak para siswa untuk merenungkan pengalaman yang telah dijalani sepanjang hari.

Didampingi oleh Fajar, Andi, dan Pebri dari Kolese Kanisius Jakarta, para siswa diharapkan mampu menyerap nilai-nilai yang diperoleh selama live in. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membentuk generasi muda yang peduli, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.

Setelah berdiam selama dua hari di SMAK Santo Aloysius dengan berbagai kegiatan mulai dari pendalaman iman hingga penanaman pohon, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan untuk perjalanan ke wilayah pedalaman, yakni stasi-stasi di Paroki Yesus Gembala Baik Palangka Raya dan Paroki Santo Gabriel Pulang Pisau. Di sana, mereka akan tinggal bersama umat dan merasakan langsung kehidupan masyarakat.

Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan seminar misi pada 1 Mei sebelum rombongan kembali ke Jakarta pada 2 Mei. Melalui seluruh proses ini, semangat “Man for Others, Man for God” diharapkan tidak sekadar menjadi tema, tetapi sungguh dihidupi dalam tindakan nyata para peserta. (TESTI PRISCILLA/j)