BORNEONEWS, Palangka Raya – Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan generasi muda sekaligus menekan risiko terjadinya Penyakit Tidak Menular, Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mengambil langkah nyata melalui serangkaian kegiatan pemeriksaan dan pembinaan.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Kerja Penyakit Tidak Menular yang berada di bawah Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, dengan sasaran utama sejumlah sekolah menengah yang ada di lingkungan kota.
Selama kurun waktu tiga hari, tepatnya pada tanggal 28 hingga 30 April 2026, dilakukan berbagai rangkaian kegiatan mulai dari pengamatan terhadap kebiasaan merokok, pengukuran kadar karbon dioksida dalam tubuh, hingga penguatan penerapan Kawasan Tanpa Rokok di lingkungan pendidikan.
Kegiatan ini diharapkan mampu mendeteksi secara dini faktor risiko kesehatan serta menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan bebas dari dampak buruk asap rokok.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, menyampaikan bahwa kegiatan ini melibatkan sebanyak 300 siswa sebagai sampel pemeriksaan.
Dari jumlah tersebut, tercatat sebanyak 78,3 persen siswa berada dalam kondisi kesehatan yang baik dan sesuai standar. Namun, temuan lain menunjukkan bahwa masih terdapat 21,7 persen peserta yang memiliki kadar karbon dioksida melebihi batas normal, yang menjadi tanda adanya paparan zat berbahaya.
“Hasil pemeriksaan juga menunjukkan perbedaan angka di setiap sekolah yang menjadi lokasi kegiatan. Angka tertinggi ditemukan di SMAN 1 dengan persentase mencapai 34 persen, disusul oleh SMKN 4 sebesar 22 persen. Sementara itu, SMAN 2 mencatat angka terendah yakni hanya 9 persen siswa yang memiliki kadar di atas ambang batas,” jelas Riduan, Kamis, 30 April 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa pengaruh kebiasaan buruk maupun paparan lingkungan masih menjadi tantangan tersendiri di lingkungan pendidikan.
Angka yang tercatat itu juga mengindikasikan bahwa masih ada sebagian siswa yang berisiko terlibat dalam kebiasaan merokok atau terpapar langsung maupun tidak langsung oleh asap rokok, sehingga berdampak pada kondisi kesehatannya meskipun usianya masih sangat muda.
Riduan menegaskan bahwa hasil ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama secara lebih aktif.
“Hal ini menunjukkan bahwa upaya penyuluhan, pendidikan, dan pendampingan kepada pelajar maupun lingkungan sekitarnya harus terus diperkuat dan dilakukan secara berkelanjutan. Kami berkomitmen untuk terus mendukung sekolah agar benar-benar menjadi kawasan yang bebas rokok, demi masa depan kesehatan anak-anak kita,” pungkasnya. (PATHUR/j)









