JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Mobil listrik atau electric vehicle (EV) yang mati mendadak saat melintasi rel kereta api ternyata memiliki sejumlah penyebab teknis. Gangguan pada sistem kelistrikan dan proteksi menjadi faktor utama yang membedakannya dari mobil konvensional berbahan bakar minyak.

Pakar otomotif Agus Purwadi menjelaskan, berbeda dengan mobil berbahan bakar (ICE) yang umumnya bermasalah pada suplai bahan bakar atau pengapian, mobil listrik lebih rentan mengalami gangguan pada sistem manajemen energi.

Salah satu penyebab paling umum adalah masalah pada baterai 12 volt (auxiliary battery). Meski mobil listrik memiliki baterai utama bertegangan tinggi, sistem penting seperti komputer, sensor, dan kelistrikan dasar tetap bergantung pada baterai kecil tersebut.

“Jika baterai 12 volt melemah atau mati, maka relay utama tidak dapat bekerja, sehingga aliran listrik dari baterai utama tidak tersalurkan ke motor. Akibatnya, mobil bisa mati total meski baterai utama masih terisi,” jelasnya.

Selain itu, peran sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS) juga sangat krusial. Sistem ini akan secara otomatis memutus aliran listrik jika terjadi panas berlebih pada komponen seperti inverter atau baterai.

Pemutusan ini merupakan langkah proteksi untuk mencegah kerusakan serius atau risiko kebakaran akibat overheating.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah sistem pengaman tegangan tinggi atau High Voltage Interlock Loop (HVIL). Sistem ini dirancang untuk mematikan kendaraan secara otomatis jika terdeteksi adanya gangguan, seperti kebocoran arus atau konektor kabel yang longgar.

“Guncangan saat melintasi rel kereta yang tidak rata bisa memicu sistem ini bekerja. Jika terdeteksi anomali, sistem langsung melakukan emergency shut-off,” tambahnya.

Selain itu, gangguan elektromagnetik di sekitar jalur kereta api juga berpotensi memengaruhi sistem kendaraan, meski kemungkinannya relatif kecil.

Medan elektromagnetik yang kuat dapat mengganggu komunikasi data internal kendaraan, terutama pada sistem Controller Area Network (CAN), sehingga memicu sistem proteksi untuk mematikan kendaraan.

Namun, pakar otomotif lainnya dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai kemungkinan tersebut sangat kecil.

Menurutnya, mobil listrik modern telah dirancang dengan perlindungan terhadap interferensi elektromagnetik dan telah melalui berbagai uji kompatibilitas sebelum dipasarkan.

“Secara teknis, potensi mobil listrik mati mendadak akibat medan elektromagnetik di rel kereta sangat rendah,” ujarnya.

Dengan berbagai sistem proteksi tersebut, mobil listrik pada dasarnya dirancang untuk mengutamakan keselamatan. Namun, pemilik kendaraan tetap disarankan memastikan kondisi komponen kelistrikan tetap optimal agar terhindar dari gangguan saat berkendara.

ANTARA