SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pesawat Airbus milik Super Air Jet dijadwalkan mulai beroperasi di Bandara H Asan Sampit pada 7 Mei 2026. Namun, kapasitas angkut penumpang tidak akan maksimal, melainkan hanya sekitar 70 hingga 80 persen dari total kapasitas kursi.

"Secara teknis kapasitasnya 180 penumpang, tetapi nantinya hanya terisi sekitar 70 sampai 80 persen. Ini mempertimbangkan aspek keselamatan, muatan barang, dan kondisi landasan pacu," kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotawaringin Timur (Kotim) Raihansyah, Jumat, 1 Mei 2026.

Ia mengungkapkan, hingga saat ini jadwal operasional yang telah diumumkan Bupati Kotim masih belum mengalami perubahan. Meski demikian, penjualan tiket penerbangan masih belum terlihat di sejumlah aplikasi pemesanan. Pihak maskapai masih akan memberikan keputusan lanjutan dalam waktu dekat terkait pembukaan penjualan tiket.

Dari sisi kesiapan teknis, seluruh aspek operasional disebut telah rampung. Mulai dari ground handling, slot penerbangan dari Sampit hingga Bandara Soekarno-Hatta, serta perizinan penerbangan dinyatakan telah terpenuhi.

Selain itu, sejumlah hambatan di sekitar landasan pacu seperti pohon-pohon yang berpotensi mengganggu pandangan pilot juga telah ditangani.

"Beberapa pohon yang menjadi obstacle sudah kami tebang, baik di sisi barat maupun timur landasan. Ada juga milik masyarakat yang masih dalam proses, mudah-mudahan segera selesai," ujarnya.

Ia menambahkan, tim teknis sebelumnya telah melakukan pengukuran menyeluruh terhadap landasan pacu, termasuk kekuatan struktur (PCN), area putar balik pesawat, hingga posisi parkir. Hasilnya dinilai memenuhi syarat sehingga sertifikat bandar udara dapat diterbitkan.

Untuk jenis pesawat, maskapai akan mengoperasikan varian Airbus berkapasitas 180 penumpang yang merupakan tipe terkecil dalam armada Super Air Jet.

Namun demikian, keterbatasan panjang dan lebar landasan pacu membuat pesawat tidak dapat diisi penuh, karena harus tetap mengutamakan keselamatan penerbangan serta distribusi beban antara penumpang dan kargo.

"Kemarin secara teknis kapasitas 180 penumpang tersebut itu nantinya terisi 70-80 persen saja. Karena dia akan memprioritaskan barang, terus juga memprioritaskan keselamatan, lebar landasan. Sehingga tidak bisa sesuai dengan kapasitas pesawat harus full 180 penumpang," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)