TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Sendratari Wusi Tungkau Nansarunai dari Kabupaten Barito Timur menghadirkan kembali sejarah Dayak Maanyan dalam pementasan di UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat, 1 Mei 2026.

Pementasan ini merupakan bagian dari program kegiatan UPT Taman Budaya di bawah Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah. Dalam program tersebut, Sanggar Komandan terpilih sebagai salah satu sanggar yang terlibat.

Melalui pertunjukan ini, tim produksi mengangkat kisah runtuhnya peradaban Dayak Maanyan dengan memadukan nuansa duka dan semangat kebangkitan. Alur dramatik yang disajikan menampilkan perjalanan masyarakat, mulai dari kehidupan harmonis hingga eksodus ke pedalaman hutan Barito.

Andrianto memimpin produksi sendratari ini dengan melibatkan kolaborasi lintas disiplin seni. Alfirdaus berperan sebagai produser sekaligus sumber cerita, Titha Widya Clara sebagai koreografer, dan Putri Wunge Ngindra sebagai sutradara.

Rivaldo Boenday, Daniel Nuhan dan Elang Mosas Gathutkoco menggarap komposisi musik, sementara Ringgo Winardo menangani penataan artistik dan Yakub Krismarian sebagai music director. Nindya Putri Permatasari menangani tata rias dan kostum, serta Raja Nakalelu dan Santana Meda sebagai vocal director.

Alfirdaus menegaskan bahwa sendratari ini lahir dari upaya merawat sejarah sekaligus menanamkan harapan bagi generasi mendatang.

“Sendratari ini mengangkat sesuatu yang telah gugur, tentang ratap yang runtuh, ketika angin seolah menyebut kisah yang telah hancur, gong terdiam, dan tarian terhenti. Namun, di balik luka itu, kami ingin menunjukkan bahwa harapan tetap tumbuh,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kisah Nansarunai merefleksikan tragedi besar dalam sejarah Dayak Maanyan ketika peradaban yang dipimpin Amah Jarang runtuh akibat ekspansi dari seberang lautan.

“Ini bukan sekadar cerita kehilangan, tetapi juga tentang keberanian untuk bertahan dan keyakinan membangun kembali jati diri,” tambah Alfirdaus.

Pementasan ini melibatkan berbagai kolaborator, antara lain Sanggar Igal Jue, Sanggar Kahanjak Huang, Sanggar Dara Marue, Sanggar Kotawaringin, Mangunraun Project, Sanggar Gunaswara Batara, Attara Collection, Wunge Organizer, Ocha Ibat MUA, Sendratasik UPR, Mapas UPR, Sawung Batarung Collection, Jesper Audio, Lighting Mareble, Patianom Record, dan Borneo Vibes Video Editing.

Sejumlah penari yang tampil yakni Tita, Qerin, Nue, Rea, Elin, Sheraya, Ijes, Nindya, Oca, Dewa, Bagus, Jevri, Wawan, Sanji, Mikhael, Juli, Joan, Eka, Peno dan Jaro.

Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah tamu undangan, di antaranya perwakilan Staf Ahli Gubernur Kalimantan Tengah Yuas Elko, Anggota Komisi XIII DPR RI Bias Layar, Ketua DAD Kaltim sekaligus Ketua Koppad Borneo Abriantinus, perwakilan Kapolda Kalteng, perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi, Disbudpar Kota Palangka Raya, tokoh budaya, serta perwakilan Dewan Adat Dayak Kalteng.

Ratusan penonton yang menyaksikan pertunjukan ini memberikan respons meriah. Tepuk tangan menggema sepanjang pementasan, menunjukkan apresiasi tinggi dari penonton yang didominasi masyarakat Maanyan perantauan, mahasiswa seni, serta mahasiswa asal Barito Timur di Palangka Raya.

Suasana haru dan bangga menyatu di dalam gedung pertunjukan, seiring panggung yang menghidupkan kembali memori kolektif tentang kampung halaman dan kisah leluhur. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)