BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kapuas menunjukkan sebanyak 42,02 persen penduduk bekerja berstatus buruh, karyawan, dan pegawai.
Angka ini mencerminkan dominasi sektor kerja upahan dalam struktur ketenagakerjaan daerah, sekaligus menegaskan peran penting kelompok pekerja dalam menopang aktivitas ekonomi lokal.
Rilis tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei. Dalam publikasinya, BPS turut mengapresiasi kontribusi para pekerja yang dinilai menjadi motor penggerak pembangunan, baik di sektor pemerintahan, swasta, maupun usaha mikro dan menengah.
Namun, di tengah besarnya kontribusi tersebut, tekanan ekonomi semakin terasa seiring meningkatnya inflasi di daerah. Berdasarkan data BPS Kabupaten Kapuas, inflasi tahunan (year-on-year) pada Maret 2026 mencapai 4,20 persen, dengan inflasi bulanan sebesar 0,89 persen dan inflasi tahun berjalan 2,04 persen. Kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai kebutuhan utama masyarakat.
Angka inflasi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok kini menjadi faktor utama yang memengaruhi daya beli masyarakat.
Bagi kelompok buruh yang mengandalkan pendapatan tetap, kondisi ini mempersempit ruang ekonomi rumah tangga, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
“Kami bekerja keras setiap hari, tapi sekarang pengeluaran jauh lebih besar. Harga bahan pokok terus naik,” ucap Usin, salah satu pekerja bangunan. Ia menggambarkan kondisi ekonomi yang semakin menekan, khususnya untuk kebutuhan pendidikan anak dan biaya hidup harian.
Menurutnya, penghasilan yang diterima belum mampu mengimbangi kenaikan harga barang. Situasi ini memaksa sebagian buruh mencari pekerjaan tambahan demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga, meski harus mengorbankan waktu dan tenaga lebih.
Secara ekonomi, tingginya persentase pekerja upahan seharusnya menjadi potensi besar dalam mendorong pertumbuhan daerah. Namun tanpa diimbangi pengendalian inflasi dan kebijakan yang berpihak pada pekerja, kelompok ini justru menjadi yang paling rentan terdampak gejolak harga.
Momentum Hari Buruh tahun ini pun menjadi refleksi atas kondisi riil yang dihadapi pekerja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan tenaga kerja agar pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kapuas. (SABRIANOOR/R)








