KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Banjarmasin - Fenomena meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di Banjarmasin kini mulai memicu alarm bagi keberlangsungan ekosistem sungai. Nelayan mengeluhkan berkurangnya hasil tangkapan ikan lokal yang selama ini menjadi sumber utama penghidupan mereka.

Sorotan terhadap persoalan ini menguat setelah akun media sosial Tik Tok @latif_batangbanyu mengunggah video pada 1 Mei 2026. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas dominasi ikan sapu-sapu dalam jaring nelayan, khususnya di perairan Sungai Martapura.

Ikan sapu-sapu diketahui merupakan spesies invasif yang berasal dari Sungai Amazon. Kemampuannya berkembang biak dengan cepat serta kebiasaannya memakan telur dan anakan ikan lain membuat spesies ini berpotensi menggeser populasi ikan asli sungai.

Dampaknya kini mulai dirasakan secara nyata. Nelayan mengaku hasil tangkapan ikan lokal semakin menurun, sementara ikan sapu-sapu justru mendominasi. Kondisi ini tidak hanya mengurangi nilai ekonomi hasil tangkapan, tetapi juga mengancam keseimbangan ekosistem perairan.

“Ikan lokalnya cuma sekitar 3 saja dapatnya, sisanya sapu-sapu,” ujar seorang nelayan dalam video tersebut. Kekhawatiran pun muncul di kalangan masyarakat. Jika tidak segera ditangani, keberadaan ikan sapu-sapu dikhawatirkan akan semakin mendominasi dan menekan keberadaan ikan lokal hingga sulit ditemukan.

Sejumlah warga mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah konkret, baik melalui penelitian maupun upaya pengendalian populasi.

Berbagai usulan juga mencuat, termasuk pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai alternatif bahan baku agar populasinya dapat ditekan.

Hingga kini, belum ada langkah penanganan khusus yang diumumkan. Namun kondisi ini menjadi peringatan dini bahwa invasi spesies asing di sungai-sungai Banjarmasin tidak bisa dianggap sepele dan memerlukan perhatian serius sebelum dampaknya semakin meluas. (SABRIANOOR)