PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemko Palangka Raya mencatat sebanyak 59,994 ribu warga di wilayah setempat menggantungkan penghidupannya pada sektor informal.

Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar penggerak roda ekonomi masyarakat berasal dari unit usaha mandiri dan lapangan kerja tidak tetap.

Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, mengungkapkan bahwa angka tersebut mencakup berbagai profesi, mulai dari pedagang kecil di pasar tradisional, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mandiri, hingga pekerja jasa lepas.

Menurutnya, kelompok pekerja inilah yang selama ini menjadi urat nadi harian yang menjaga stabilitas ekonomi kota.

"Kami berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan intensif agar para pelaku usaha informal tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih kuat di tengah persaingan pasar yang semakin ketat," katanya, Sabtu, 2 Mei 2026.

Salah satu fokus utama pendampingan tersebut adalah mendorong para pelaku usaha mandiri untuk segera masuk ke dalam ekosistem digital.

Zaini menilai, digitalisasi bukan lagi sebuah pilihan melainkan keharusan agar jangkauan pasar para pedagang kecil dan pelaku UMKM dapat meluas melampaui batas wilayah konvensional.

Selain penguatan kapasitas melalui teknologi, Pemerintah Kota Palangka Raya juga berupaya memfasilitasi akses permodalan yang lebih mudah.

Langkah ini diambil untuk memutus ketergantungan para pekerja informal terhadap pinjaman ilegal yang kerap menjerat, sehingga mereka bisa mendapatkan suntikan dana segar dengan skema yang lebih ringan dan aman.

Melalui sinergi antara pendampingan teknis, digitalisasi, dan kemudahan modal, diharapkan sektor informal di Palangka Raya dapat naik kelas menjadi sektor formal yang mapan.

"Kami optimis bahwa penguatan pada sektor ini akan memberikan dampak domino yang positif terhadap penurunan angka pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas," pungkasnya. (HENDRI/J)