BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Fenomena angin puting beliung yang terpantau di wilayah Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas pada Sabtu, 2 Mei 2026, tidak terjadi secara tiba-tiba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui prakirawannya menjelaskan adanya kondisi atmosfer yang mendukung terbentuknya pusaran angin tersebut.
Prakirawan BMKG Palangkaraya, Chandra, menyebutkan bahwa puting beliung umumnya terjadi akibat atmosfer yang tidak stabil dan pertumbuhan awan konvektif yang kuat.
“Faktor utamanya adalah pemanasan permukaan yang kuat pada siang hingga sore hari, sehingga udara panas naik dengan cepat,” jelas Chandra. Kondisi ini memicu terbentuknya awan Cumulonimbus yang besar dan menjulang tinggi.
Selain itu, perbedaan suhu dan tekanan udara yang ekstrem serta tingginya kelembapan udara turut mempercepat pertumbuhan awan tersebut. Awan Cumulonimbus biasanya ditandai dengan warna gelap, disertai hujan lebat dan petir.
Chandra juga menambahkan bahwa perubahan arah dan kecepatan angin di dalam awan dapat membentuk pusaran yang kemudian berkembang menjadi puting beliung. Bentuk awalnya sering terlihat seperti corong atau belalai yang menggantung dari awan.
Terkait dampak, ia menegaskan bahwa potensi kerusakan sangat bergantung pada apakah pusaran tersebut mencapai permukaan tanah. “Benar, apabila angin puting beliung sampai ke permukaan dan melewati permukiman, maka berpotensi merusak,” ujarnya.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada, terutama saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang di sore hingga malam hari. BMKG juga mengimbau warga untuk segera mencari tempat aman jika melihat tanda-tanda awan gelap dan angin berputar di sekitar wilayah mereka. (SABRIANOOR/j)









