BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Fenomena angin puting beliung yang kerap terjadi di wilayah Kapuas bagian selatan kembali menjadi sorotan masyarakat. Dalam beberapa waktu terakhir, kejadian serupa dilaporkan muncul di sejumlah titik seperti Kapuas Timur, kawasan perbatasan Kalimantan Tengah - Kalimantan Selatan, hingga Dadahup dan Muara Dadahup.
Prakirawan BMKG Kapuas, Chandra, menjelaskan bahwa faktor geografis menjadi salah satu penyebab utama wilayah tersebut lebih rentan terhadap kemunculan puting beliung. Ia menyebut, kondisi bentang alam yang didominasi dataran rendah, terbuka, dan minim penghalang alami seperti perbukitan atau hutan lebat, memudahkan terbentuknya pusaran angin kencang.
“Dari pengamatan, wilayah dataran yang lapang seperti persawahan atau kawasan terbuka memang lebih berpotensi tinggi. Jika faktor pendukung atmosfer terpenuhi, angin puting beliung bisa terbentuk dengan cepat,” ujar Chandra, Sabtu, 2 Mei 2026.
Selain faktor geografis, Chandra menambahkan bahwa saat ini wilayah Kapuas tengah memasuki masa pancaroba atau peralihan musim. Pada periode ini, potensi cuaca ekstrem meningkat, termasuk hujan lebat, petir, angin kencang, hingga puting beliung yang bisa terjadi secara tiba-tiba.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal kemunculan puting beliung. Di antaranya adalah munculnya awan cumulonimbus berwarna gelap dan menjulang tinggi, udara terasa panas dan gerah secara mendadak, angin kencang yang datang tiba-tiba, serta perubahan warna awan menjadi hitam pekat yang kadang disertai bentuk menyerupai belalai.
Sementara itu, Kepala BPBD Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama masa peralihan musim ini. Ia menegaskan bahwa potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, petir, dan angin kencang harus diantisipasi sejak dini.
“Masyarakat diharapkan memperhatikan kondisi rumah masing-masing, terutama bagian atap agar dipastikan kuat dan terpasang dengan baik. Selain itu, berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah jika terjadi perubahan cuaca ekstrem secara tiba-tiba,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan warga yang tinggal di sekitar aliran sungai agar lebih waspada, mengingat kondisi cuaca ekstrem dapat memperparah risiko banjir maupun kerusakan akibat angin kencang.
Dengan meningkatnya potensi cuaca ekstrem di masa pancaroba, masyarakat diimbau untuk rutin memantau informasi resmi dari BMKG serta mengikuti arahan dari pemerintah daerah guna meminimalisir risiko yang ditimbulkan. (SABRIANOOR/y)









