BORNEONEWS, Palangka Raya - Inflasi tahunan atau year-on-year/y-on-y di Provinsi Kalimantan Tengah pada April 2026 tercatat sebesar 3,66 persen. Angka ini menunjukkan tekanan harga yang masih terjadi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah mengungkapkan, inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.
Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, Taufiqurrahman, menyampaikan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan.
“Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 5,39 persen dengan andil mencapai 2,11 persen terhadap inflasi tahunan,” kata Taufiqurrahman menyampaikan berita resmi statistik pada Senin, 4 Mei 2026.
Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga memberikan kontribusi cukup besar dengan inflasi 3,19 persen dan andil 0,34 persen. Disusul kelompok transportasi yang mengalami inflasi 1,76 persen dengan andil 0,17 persen.
"Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turut mencatat inflasi sebesar 1,19 persen dengan kontribusi 0,16 persen. Sementara itu, sektor pendidikan mengalami inflasi 3,03 persen dengan andil 0,10 persen," katanya lagi.
Menariknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi secara persentase, yakni 11,49 persen dengan andil 0,68 persen terhadap inflasi tahunan.
Taufiqurrahman menambahkan, secara umum tren inflasi tahunan di Kalimantan Tengah masih dalam kondisi yang perlu diwaspadai, terutama pada kelompok bahan pangan yang menjadi kontributor utama.
“Pengendalian harga, khususnya pada komoditas pangan, menjadi kunci menjaga stabilitas inflasi di daerah,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/j)









