KUALA KURUN –

BORNEONEWS, Kuala Kurun - Pemerintah Kabupaten Gunung Mas mulai mengembangkan komoditas bawang merah sebagai salah satu potensi pertanian baru di daerah setempat.

Pengembangan ini ditandai dengan panen perdana yang dilakukan Kelompok Tani atau Poktan Manawau Makmur di Desa Tanjung Riu, Kecamatan Kurun.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Mas, Aryantoni mengatakan, panen perdana bawang merah tersebut dilakukan pada akhir April 2026. Adapun masa tanam dimulai sejak 20 Februari 2026.

“Budi daya bawang merah dilakukan di lahan berukuran 10 x 7 meter, dengan hasil panen mencapai sekitar 50 kilogram bawang merah dalam kondisi basah,” ujarnya di Kuala Kurun, Selasa, 5 Mei 2026.

Aryantoni menjelaskan, pengembangan bawang merah tersebut masih bersifat percobaan. Perlakuan terhadap lahan juga masih terbatas, di antaranya belum dilakukan pengapuran dan penggunaan pupuk kandang yang masih minim.

Meski demikian, hasil panen yang diperoleh dinilai cukup baik. Hal ini menjadi indikator awal bahwa bawang merah memiliki peluang untuk dikembangkan di Kabupaten Gunung Mas.

“Namun hasil yang diperoleh cukup baik dan menjadi indikator awal bahwa komoditas bawang merah berpotensi dikembangkan di wilayah Gunung Mas,” katanya.

Menurutnya, peluang pengembangan bawang merah di Gunung Mas cukup terbuka. Hal ini didukung ketersediaan lahan yang masih luas serta kondisi agroklimat yang memungkinkan untuk budi daya hortikultura.

Selain itu, kebutuhan bawang merah di pasar lokal selama ini masih banyak dipasok dari luar daerah. Kondisi tersebut membuat pengembangan produksi lokal dinilai memiliki prospek yang menjanjikan.

Aryantoni menambahkan, apabila dilakukan secara bertahap dan terencana, komoditas bawang merah tidak hanya dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi petani.

Pengembangan bawang merah juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama dari sektor pertanian.

Ke depan, produksi bawang merah diharapkan terus meningkat melalui perbaikan teknik budi daya, optimalisasi perlakuan lahan, serta penambahan luas area tanam.

Dinas Pertanian bersama Petugas Penyuluh Lapangan juga akan terus memberikan pendampingan teknis dan penguatan kapasitas kepada para petani.

Aryantoni menyebut, hasil panen bawang merah dari Poktan Manawau Makmur telah dipasarkan kepada masyarakat di Kecamatan Kurun dan sekitarnya. Bawang merah basah tersebut dijual dengan harga Rp30 ribu per kilogram.

Pemasaran turut dibantu Dinas Pertanian dan penyuluh melalui berbagai media sosial secara daring.

“Seluruh hasil panen sudah habis terjual. Ini menunjukkan budi daya dan pemasaran bawang merah di daerah kita masih sangat potensial,” ujarnya.

Ia menambahkan, berdasarkan estimasi nasional sekitar 4,56 kilogram per kapita per tahun, kebutuhan bawang merah di Kabupaten Gunung Mas diperkirakan mencapai ratusan ton per tahun.

Sementara itu, produksi lokal masih sangat terbatas karena baru dalam tahap uji coba. Akibatnya, sebagian besar pasokan bawang merah masih didatangkan dari luar daerah.

“Kondisi ini menunjukkan adanya peluang besar bagi pengembangan komoditas bawang merah sebagai upaya mengurangi ketergantungan pasokan sekaligus meningkatkan kemandirian pangan daerah,” katanya.