JAKARTA –

BORNEONEWS, Tokyo - Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent mengisyaratkan Presiden AS Donald Trump akan mendorong Presiden China Xi Jinping untuk ikut menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz.

Dorongan itu rencananya disampaikan saat Trump dan Xi bertemu di Beijing pada pekan depan, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Dalam wawancara dengan Fox News, Bessent mengatakan Trump dan Xi sebelumnya telah membahas situasi perang Iran melalui sambungan telepon maupun korespondensi surat. Namun, ia tidak menjelaskan kapan komunikasi tersebut berlangsung.

“Mari kita lihat mereka meningkatkan upaya diplomasi dan membuat Iran membuka selat tersebut,” kata Bessent, seperti dilaporkan RIA Novosti, Selasa, 5 Mei 2026.

Bessent menyebut China memiliki pengaruh besar karena membeli sebagian besar ekspor energi Iran. Menurutnya, peran Beijing penting dalam mendorong Iran membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Ia juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat kini memegang kendali atas selat itu. Bessent menyerukan agar China bergabung dengan AS dalam operasi internasional untuk memulihkan pelayaran komersial di jalur perairan yang penting bagi pasokan energi global tersebut.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump mengumumkan inisiatif baru bernama Project Freedom. Program tersebut disebut bertujuan memandu kapal-kapal komersial yang terhambat melalui rute pelayaran sempit di Selat Hormuz.

Selat Hormuz secara efektif ditutup oleh Iran sejak Amerika Serikat dan Israel memulai perang pada akhir Februari lalu.

Militer AS pada Senin, 4 Mei 2026 menyebut dua kapal dagang berbendera Amerika Serikat berhasil melewati jalur laut antara Teluk Persia dan Teluk Oman.

Namun, Iran membantah adanya pelayaran transit yang berhasil dilakukan. Iran sebelumnya juga mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melewati jalur tersebut tanpa izin.

Sejak pengumuman operasi maritim tersebut, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Iran meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap Uni Emirat Arab atau UEA untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata dengan Amerika Serikat diberlakukan sekitar sebulan lalu.

Trump juga menyampaikan melalui media sosial bahwa Iran telah menembaki kapal kargo Korea Selatan dan sejumlah target lain yang tidak terkait langsung dengan operasi maritim baru AS.

“Mungkin sudah saatnya Korea Selatan datang dan bergabung dalam misi ini,” kata Trump. Ia juga mengklaim Amerika telah menghancurkan tujuh kapal kecil milik Iran.

Di tengah situasi perang dan ketidakstabilan kawasan, Trump sebelumnya menunda kunjungannya ke China. Perjalanan yang semula dijadwalkan pada 31 Maret hingga 2 April itu menjadi kunjungan pertama presiden AS yang sedang menjabat ke China dalam lebih dari delapan tahun.

Pertemuan Trump dan Xi kini dijadwalkan berlangsung pada 14 hingga 15 Mei. Bessent mengatakan pemerintahan Trump ingin menjaga hubungan yang stabil dengan Beijing.

“Kami memiliki stabilitas yang baik dalam hubungan ini dan itu berasal dari rasa saling menghormati antara kedua pemimpin,” ujarnya.

Trump juga menyatakan dalam sebuah acara di Gedung Putih bahwa ia berharap segera bertemu Xi dalam kunjungan yang dinilainya sangat penting.

Meski masih terdapat sejumlah persoalan perdagangan dan isu lain yang belum selesai, sikap Trump terhadap China disebut mulai melunak sejak pertemuannya dengan Xi di Korea Selatan pada Oktober 2025.

Tanpa secara langsung mengaitkan China dengan perang Iran, Trump mengklaim Amerika Serikat unggul dalam bidang kecerdasan buatan. Namun, ia menyebut persaingan kedua negara berlangsung dalam suasana yang sangat bersahabat.

Sumber: Kyodo/ANTARA