BORNEONEWS, Maseru - HWPL menyelenggarakan DPE-HWPL Peace Education Teacher Graduation Ceremony di Maseru, Lesotho, pada 13 Maret 2026.
Kegiatan tersebut digelar bekerja sama dengan Development for Peace Education atau DPE. Wisuda ini menjadi bentuk apresiasi kepada para guru yang telah menyelesaikan program pendidikan perdamaian HWPL.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mendorong perluasan pendidikan perdamaian di sektor pendidikan publik di Lesotho.
Lesotho diketahui memiliki jumlah penduduk muda yang cukup besar. Karena itu, pendidikan berbasis nilai dan pencegahan konflik melalui dunia pendidikan dinilai menjadi kebutuhan penting.
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 100 peserta. Mereka terdiri dari para guru lulusan program pendidikan perdamaian, pejabat Kementerian Pendidikan dan Pelatihan Lesotho atau MOET, tokoh pendidikan, serta pemimpin masyarakat.
Dalam pertemuan itu, para peserta membahas berbagai upaya untuk mencegah konflik melalui pendidikan. Mereka juga menekankan pentingnya membangun perdamaian yang berkelanjutan melalui nilai-nilai yang ditanamkan sejak usia sekolah.
Menteri Pendidikan dan Pelatihan Lesotho, Ntoi Rapapa mengatakan, konflik sosial dan kekerasan tidak cukup diselesaikan hanya melalui perubahan institusi.
Menurutnya, perubahan nilai dalam diri manusia juga harus menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan masyarakat yang damai.
“Konflik sosial dan kekerasan tidak dapat diselesaikan hanya melalui perubahan institusi; perubahan nilai dalam diri manusia juga harus menyertainya. Secara khusus, peran guru yang membimbing siswa di sekolah sangatlah penting,” ujarnya.
Ia berharap pendidikan perdamaian dapat diperluas dalam sistem pendidikan publik. Dengan demikian, seluruh anak di Lesotho dapat tumbuh dengan mempelajari nilai-nilai perdamaian.
Sementara itu, Kepala Sekolah Ribaneng High School, Puleng Nkaleche mengatakan, pendidikan perdamaian memberikan dampak positif bagi sekolah dan para siswa.
“Melalui pendidikan perdamaian, kami dapat menghadirkan pemulihan dan harapan bagi sekolah dan para siswa. Kini, para guru akan menjadi pembawa pesan perdamaian dan meneruskan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya,” katanya.
HWPL dan DPE berencana memperluas program pendidikan perdamaian di seluruh Lesotho. Kedua pihak juga akan terus menyelenggarakan pelatihan bagi guru secara berkelanjutan.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat peran guru sebagai agen perdamaian, sekaligus menjadi dasar bagi integrasi pendidikan perdamaian ke dalam sistem pendidikan publik di Lesotho. (*/J)









