SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kini mulai diterangi sepasang lampu penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya yang dipasang di sisi utara dan selatan jembatan serta sejumlah papan peringatan. 

Keberadaan lampu tersebut membuat area jembatan terlihat lebih terang dibanding sebelumnya, meskipun jangkauan pencahayaannya masih terbatas. Setidaknya, penerangan ini menjadi penanda bagi pengendara agar lebih waspada saat melintas, terutama pada malam hari.

Selain pemasangan PJU, pemerintah daerah juga menempatkan sejumlah papan peringatan di sekitar lokasi. Di sisi utara, peringatan sudah terlihat sejak simpang Jalan Pelita dengan tulisan larangan bagi truk bermuatan dan truk CPO untuk melintas. Mendekati jembatan, terdapat 2 papan peringatan yang mengingatkan pengendara akan keberadaan jembatan dan rawan kecelakaan.

Hal serupa juga terlihat di sisi selatan, di mana papan peringatan dipasang mulai dari kawasan dekat Jalan Kaca Piring I.

"Untuk lampu solar cell dipasang hari minggu kemaren dan untuk rambu-rambu himbauan dipasang hari Rabu minggu kemaren dan ada juga yang dipasang hari ini," ujar Plt Kepala UPTD Jalan, Jembatan dan Drainase, Suhardiono singkat saat dihubungi, Selasa, 5 Mei 2026.

Sementara itu salah satu warga sekitar Windarto mengapresiasi respons pemerintah daerah tersebut. Meski demikian, ia menilai langkah tersebut masih bersifat sementara dan belum menyentuh akar permasalahan.

Menurutnya, kondisi fisik jembatan masih memprihatinkan meski telah dilakukan pemeliharaan. Ia menyebut sejumlah baut masih dalam kondisi longgar, terdengar dari decitan jembatan saat dilalui.

"Ini memang membantu, tapi hanya solusi sementara. Kami berharap ada pembangunan jembatan permanen agar lebih aman," katanya.

Ia juga meragukan efektivitas baliho larangan bagi kendaraan berat. Ia yakin truk bermuatan maupun truk CPO tetap nekat melintas jika tidak ada ketegasan.

Diketahui, Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono Sampit sudah lama menjadi sorotan masyarakat karena kondisi kerusakannya yang berulang. Diduga, salah satu penyebab utama kerusakan adalah tingginya intensitas kendaraan angkutan berat yang tetap melintas di jalur tersebut.

Bahkan, beberapa waktu lalu, kondisi jembatan ini sempat memicu kecelakaan tunggal yang menelan korban jiwa, sehingga semakin mendesak perlunya penanganan serius dari pemerintah daerah. (DEWI PATMALASARI/H)