SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat menjadi pemicu utama laju inflasi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim, Eddy Surahman, mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar inflasi di daerah tersebut.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,61 persen dan menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap inflasi,” kata Eddy Surahman, Rabu, 6 Mei 2026

Beberapa komoditas utama yang mengalami kenaikan harga signifikan di antaranya adalah daging ayam ras, ikan nila, beras, dan minyak goreng. Kenaikan harga pada komoditas-komoditas ini cukup berdampak karena merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat lokal.

Kenaikan harga bahan pokok tersebut jika dikerucutkan lantaran adanya kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, bahan pokok di Kotawaringin Timur pada umumnya berasal dari luar daerah sehingga mahalnya harga BBM berpengaruh terhadap tarif angkut barang. 

Meski demikian, Eddy juga menyampaikan bahwa tidak semua bahan pangan mengalami kenaikan harga. Ada beberapa komoditas yang justru mengalami penurunan harga atau deflasi, contohnya cabai rawit.

“Tidak semua bahan pangan mengalami kenaikan harga. Beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga atau deflasi, salah satunya cabai rawit,” ujarnya.

Secara keseluruhan, inflasi tahunan di Sampit pada April 2026 tercatat sebesar 3,65 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di angka 110,75. Kenaikan harga terjadi hampir merata di berbagai kelompok pengeluaran selain makanan, seperti perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meningkat paling tinggi mencapai 13,36 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran juga mengalami kenaikan sebesar 4,02 persen. Sementara itu, kelompok pendidikan tercatat naik 3,34 persen, transportasi 1,98 persen, penyediaan bahan bakar rumah tangga 1,84 persen, kesehatan 1,52 persen, dan pakaian serta alas kaki naik 0,57 persen.

Kelompok komunikasi dan jasa keuangan naik 0,34 persen, rekreasi dan budaya 0,29 persen, serta peralatan dan pemeliharaan rumah tangga meningkat 0,16 persen.

Untuk inflasi bulanan (month-to-month) pada April 2026, tercatat sebesar 0,44 persen, dan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 1,91 persen.

Data ini menegaskan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok masih menjadi faktor dominan yang perlu mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat di Kotawaringin Timur. (DEVIANA/y)