BORNEONEWS, Palangka Raya – Isu ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian karena dinilai berdampak langsung terhadap distribusi bahan pangan, hewan ternak, hingga pakan ternak di Kalimantan Tengah. Keterbatasan BBM dikhawatirkan menghambat rantai pasok dan memicu kenaikan harga di tingkat masyarakat.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Faridawaty Darland Atjeh, menegaskan bahwa sektor pangan dan peternakan sangat bergantung pada kelancaran distribusi BBM, terutama untuk transportasi logistik dari daerah produksi ke pasar.
“Jika distribusi BBM terganggu, maka pengangkutan bahan pangan, hewan ternak, hingga pakan ternak juga ikut terhambat. Ini bisa berdampak pada ketersediaan dan harga di pasar,” ujarnya, Rabu 6 Mei 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi secara serius oleh pemerintah bersama pihak terkait, termasuk memastikan pasokan BBM untuk sektor-sektor vital tetap tersedia dan tidak mengalami hambatan.
Ia juga menyoroti pentingnya prioritas distribusi BBM bagi pelaku usaha di sektor pangan dan peternakan agar aktivitas produksi dan distribusi tidak terganggu.
Selain itu, Faridawaty mendorong adanya langkah strategis seperti penguatan ketahanan pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan distribusi jarak jauh yang sangat bergantung pada ketersediaan BBM.
"Dengan langkah antisipatif dan koordinasi yang baik, diharapkan stabilitas pasokan pangan dan sektor peternakan tetap terjaga di tengah dinamika ketersediaan BBM," harapnya. (MARINI/H)









