BORNEONEWS, Kuala Kurun - Ketua DPRD Gunung Mas Binartha turut angkat bicara terkait harga BBM di Pom Mini atau eceran yang jauh lebih mahal ketimbang di SPBU.
Terlihat di lapangan, harga Pertamax dan Pertalite di pom mini di Kota Kuala Kurun lebih mahal ketimbang yang dijual di SPBU setempat.
Untuk Pertalite di pom mini, ada yang menjualnya dengan harga Rp16.500/liter dan Pertamax Rp 18.000 per liter. Padahal di SPBU Kaula Kurun harga Pertalite yakni Rp10.000 per liter dan Pertamax Rp12.500 per liter.
"Kami berharap pihak keamanan bersama dinas terkait bisa memantau hal ini. Jangan sampai kenaikan harga BBM di eceran terlalu signifikan. Harus diseimbangkan juga," kata Binartha, Kamis, 7 Mei 2026.
Selain itu, ia juga meminta adanya pengawasan lebih ketat terhadap aktivitas di SPBU. Menurutnya, antrean kendaraan yang berulang kali mengisi BBM perlu dicermati karena diduga berkaitan dengan aktivitas pelangsiran yang kemudian dijual kembali dengan harga tinggi di pom mini atau pengecer.
Binartha mengakui, persoalan distribusi BBM di Kabupaten Gunung Mas memang cukup kompleks. Ia memahami alasan para pelangsir yang menyebut belum semua kecamatan dan desa terjangkau Pertashop maupun SPBU, sehingga masyarakat di wilayah tertentu masih bergantung pada penjualan BBM eceran.
Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut jangan dijadikan kesempatan untuk mencari keuntungan berlebihan tanpa mempertimbangkan kemampuan masyarakat. Menurutnya, penjualan BBM eceran tetap harus memperhatikan kepentingan warga yang membutuhkan.
“Jangan dijadikan ladang bisnis yang terlalu berlebihan. Harus memikirkan juga nasib masyarakat,” tegasnya. (RISKA YULYANA/R)









