PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Kondisi antrean kendaraan yang panjang bahkan hingga mengular kini menjadi pemandangan umum di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palangka Raya.

Situasi ini tentu menimbulkan kegelisahan di kalangan masyarakat, khususnya para pekerja yang sangat bergantung pada kendaraan sebagai mata pencaharian sehari-hari.

Salah satu warga yang merasakan dampak langsung adalah Ifan, seorang pengemudi ojek online. Ia mengaku harus meluangkan waktu lebih dari satu jam hanya untuk mengisi bahan bakar kendaraannya.

Bagi dirinya, waktu yang terbuang dalam antrean tersebut sangat merugikan karena berkurangnya kesempatan untuk mendapatkan penumpang.

"Rugi berapa kali trip atau pesanan yang saya lewati hanya demi mengantre isi BBM saja," ungkap Ifan dengan nada kecewa, Kamis, 7 Mei 2026.

Menurutnya, waktu satu jam lebih yang habis untuk antrean itu seharusnya bisa ia gunakan untuk melayani penumpang dan menambah penghasilan bagi kebutuhan keluarga.

Masalah ketersediaan bahan bakar ini makin terasa berat karena pasokan di luar SPBU pun sulit didapatkan. Ifan menjelaskan, jika pun ada penjualan BBM secara eceran, kondisinya diperebutkan banyak orang dengan harga yang sudah melambung tinggi.

Harga eceran Pertamax mencapai Rp 18.000 per liter, sedangkan Pertalite dijual antara Rp 13.000 hingga Rp 14.000 per liter.

Harga yang tidak wajar ini terpaksa dibayar oleh sebagian warga demi kebutuhan mendesak, meskipun sangat memberatkan.

Keterbatasan pasokan dan lonjakan harga ini dirasakan sangat membebani, terutama bagi pekerja harian yang pendapatannya tidak menentu dan sangat bergantung pada operasional kendaraan.

Menyikapi hal ini, Ifan berharap pihak berwenang dan instansi terkait segera turun tangan serta mencari solusi terbaik. "Saya menginginkan kondisi ketersediaan dan pelayanan BBM segera kembali normal seperti sedia kala," pungkasnya. (PATHUR/R)