BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Selama bertahun-tahun, banyak rumah ibadah di pedesaan menentukan arah kiblat berdasarkan perkiraan kompas manual atau acuan bangunan lama. Namun bagi masyarakat Desa Tamban Baru Tengah, Kecamatan Tamban Catur, memastikan arah salat yang benar kini tak lagi sekadar keyakinan, melainkan didukung pengukuran ilmiah yang presisi.
Hal itu terlihat dari antusiasme warga saat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kapuas melalui Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam melaksanakan verifikasi dan kalibrasi arah kiblat pada Jumat, 8 Mei 2026.
Program tersebut menyasar sejumlah rumah ibadah di wilayah setempat, mulai dari Masjid Al-Mujahidin, Mushalla Miffahul Jannah, Mushalla Baiturrahman, Mushalla Darul Ihsan, Mushalla Darut Thaibah, Mushalla Nurul Jannah hingga Mushalla Darul Taslim.
Bagi warga, layanan ini menjadi jawaban atas keraguan yang selama ini tersimpan, terutama terkait kemungkinan adanya selisih arah kiblat akibat pengukuran awal yang kurang akurat.
Gr. Sa’dillah (45), tokoh sekaligus pengurus musholla di Desa Tamban Baru Tengah, mengaku selama ini jamaahnya menggunakan kompas biasa sebagai acuan.
"Dulu kami pakai kompas biasa, tapi setelahnya kami khawatir ada pergeseran. Setelah tim kalibrasi Seksi Bimas Islam Kapuas datang melakukan kalibrasi menggunakan theodolite, ternyata ada selisih sekitar beberapa derajat. Sekarang jamaah lebih mantap dan tidak khawatir lagi saat takbiratul ihram," ungkap Gr. Sa’dillah.
Penggunaan alat ukur modern berupa theodolite membuat hasil pengukuran lebih akurat. Tak hanya itu, masyarakat juga mendapatkan edukasi bahwa arah kiblat dapat berubah dari hasil pengukuran awal yang kurang tepat, bukan karena adanya perubahan posisi Ka’bah.
Pemahaman ini menurut warga menjadi hal penting, sebab sebelumnya masih banyak yang belum mengetahui pentingnya kalibrasi berkala.
“Warga jadi paham bahwa arah kiblat bisa bergeser seiring waktu atau karena kesalahan pengukuran awal. Masyarakat mengapresiasi kemudahan akses permohonan kalibrasi yang cepat dan akurat dari Seksi Bimas Islam Kemenag,” ungkap Ridha Nugraha, seorang perangkat desa sekaligus penggerak remaja masjid Al-Mujahidin.
Selain memberi kepastian arah ibadah, tim Kemenag juga meluruskan kekhawatiran masyarakat terkait stigma lama bahwa koreksi arah kiblat berarti bangunan rumah ibadah harus dibongkar.
Khairil Azmi, pengurus Musholla Daruttaslim Komplek Pasar Arba, mengaku penjelasan dari petugas membuat jamaah jauh lebih tenang.
"Awalnya jama’ah takut rumah ibadahnya harus dibongkar kalau kiblatnya salah. Ternyata dari penjelasan tim kalibrasi Kemenag, cukup garis safnya saja yang disesuaikan sedikit. Edukasi seperti ini sehingga membuat kami merasa tenang dan terayomi, terima kasih dari kami" ujarnya ketika berbincang dengan petugas.
Bagi warga Tamban Catur, layanan ini bukan hanya soal mengoreksi arah saf, tetapi juga menghadirkan ketenangan baru, dimana ibadah yang dijalankan kini terasa lebih mantap karena dilakukan dengan keyakinan yang lebih presisi. (SABRIANOOR/H)









